
Sosoknya
hadir dalam siluet berlatarbelakang langit senja yang mulai kemerahan. Cukup
dari tempatku berdiri sekarang, aku terdiam memandanginya, seorang gadis cantik
berbalut pakaian hitam dengan rambut panjangnya yang terurai. Tak banyak yang
ia lakukan sejak tadi. Ia hanya berdiri sambil menatap ombak di laut lepas yang
sesekali menghampiri. Ia tak bergeming, saat ombak perlahan membasahinya
kakinya. Jika ia mulai merasa bosan, ia berjalan beberapa meter sambil menendangi
hamparan pasir di hadapannya. Menendang dengan hampa.
Aku
bertemu dengannya secara tidak sengaja sepuluh hari yang lalu. Saat itu kulihat
ia seorang diri di pantai ini, berlari dengan riang seolah ingin mengiringi
matahari yang perlahan menghilang di ufuk barat. Entah apa yang salah dengan
dirinya. Meski senyum tersungging di bibirnya, tatapannya begitu dalam tetapi
kosong.
Tanpa
alasan yang jelas, aku merasa nyaman memperhatikannya sejak sepuluh hari yang
lalu. Dari jarak beberapa meter tempat ia biasa berdiri, aku masih bisa
memotretnya dengan SLR digital yang selalu jadi teman setia saat aku pergi.
Pernah suatu kali tatapannya yang selama ini acuh, tertuju lurus menembus lensa
kamera hingga ke retina mataku. Namun ia tetap saja terlihat angkuh. Seolah tak
peduli apa yang kulakukan. Sekalipun sepertinya ia tahu aku baru saja
mengabadikan dirinya dengan kamera yang kupegang.
...
Sebelas hari aku di sini. Tak pernah
ada keberanian yang mampu mendorongku untuk mendekati atau sekedar menyapanya.
Aku terlalu takut, dia akan merasa terusik dengan pertanyaanku hingga akhirnya
dia tak kembali lagi ke pantai ini. Sosoknya menjadi terekam sangat manis dalam
memori di otakku. Aku selalu ingat bagaimana angin membelai rambut panjangnya
yang hitam legam. Bagaimana ombak membuatnya tertawa. Dan bagaimana pasir
menjadi tempat untuknya bercerita.
Ia masih saja sama sejak pertama
kali aku melihatnya. Ia selalu memakai pakaian berwarna hitam. Mungkin ia
menyukai warna hitam. Aku mencoba berpikir begitu meskipun terasa janggal. Aku
seolah tak peduli lagi logika. Kali ini aku menyerah. Aku dikalahkan oleh
perasaan. Semua tentangnya, terlihat begitu indah walau tak banyak yang ku
tahu. Bahkan mungkin sebenarnya aku memang tidak tahu apa-apa.
Kurasakan setetes air jatuh di
punggung tanganku. Akupun menengadah menatap langit. Awan kelam sudah
memayungiku di sana. Sepertinya gerimis ini akan menjadi hujan lebat. Maka
kulangkahkan kakiku menuju cottage tempat aku menginap. Aku sempat
menoleh ke arah gadis berbaju hitam itu. Ia masih tetap tersenyum memandangi
ombak.
...
Hari keduabelas dan aku sudah
menunggunya sejak tadi. Namun ia tak kunjung dapat kulihat keberadaannya. Aku
berjalan menyusuri pantai, berharap dapat menemukan sosoknya. Akan tetapi, Ia
tetap tak bisa kutemukan dan itu membuat hatiku mulai gelisah. Aku resah
memikirkan segala kemungkinan buruk yang terjadi padanya. Akhirnya, aku kembali
ke tempat aku biasa duduk mengamatinya dari kejauhan. Resahku terkalahkan oleh
pasrah. Mungkin sekarang ia sedang sakit karena kemarin ia memilih tetap di
sini saat akhirnya hujan lebat turun. Atau mungkin, jangan-jangan ia mulai
jengah karena sadar selama ini aku selalu memperhatikannya? Pikiranku mulai
mengada-ngada. Bodohnya aku. Kenapa harus sekhawatir itu? Dia bukanlah
siapa-siapa. Begitupun aku. Bahkan, kami
tak pernah menjalin komunikasi melalui kata-kata. Entahlah. Aku hanya merasa
rindu.
“Mencari aku??” sebuah tanya terucap dari
seseorang yang dengan tiba-tiba duduk di sebelahku. Aku serasa ingin melonjak
kegirangan melihatnya kembali, terlebih dalam jarak kami yang sedekat ini.
Aneh. Perasaan ini sungguh-sungguh aneh.
“Kenapa?” aku hanya tersenyum membalas
semua pertanyaannya. Aaaargh...aku justru bingung harus berkata apa. Rasanya banyak kata
yang berdesakan mengantri untuk diucapkan sehingga aku tak mampu menyusunnya
menjadi sebuah kalimat yang rapi. Akhirnya aku berakhir dengan diam dan memilih
untuk tetap memerhatikannya saja. Seperti biasa.
Ia masih duduk di atas pasir persis
di sebelahku yang tetap membisu. Sesekali ia tersenyum menatapku tanpa berkata
apapun. Hening, hingga akhirnya matahari terbenam dan langit perlahan mulai
gelap. Ia masih tetap nyaman memainkan pasir dengan sebatang ranting yang sejak
tadi ia pegang.
Biasanya saat matahari sudah tak terlihat
lagi, aku membiarkannya sendiri di pantai ini dan memilih untuk kembali ke cottage
tempat aku menginap. Namun kali ini aku tertahan. Bukan, bukan tertahan,
melainkan aku sendiri yang menahan diri untuk tidak pergi. Aku ingin lebih puas
mengamatinya sebelum lusa pagi aku kembali ke Jakarta.
Air
laut mulai pasang. Gadis berpakaian hitam yang masih saja belum ku ketahui
namanya itu, bangkit dan beranjak pergi. Aku berniat mengikutinya sekedar ingin
tahu di mana ia tinggal. Niatku urung, saat gadis itu menghentikan langkahnya
dan berbalik menatapku. Lalu ia menggeleng seolah ia tahu apa maksudku. Aku
tertawa dalam hati. Ikatan batin macam apa ini? Tanpa kata, hanya isyarat yang
tertangkap mata, tetapi tetap saja rasanya indah.
...
Hari berganti. Sekarang, hari
ketigabelas, lebih tepatnya hari terakhir aku di pantai ini. Gadis berbaju
hitam itu kembali hadir duduk di sebelahku dengan tiba-tiba. Ia tetap memainkan
pasir dengan ranting kayu yang ia bawa seperti kemarin. Aku mencoba untuk tak
peduli dan membiarkan tatapanku lepas memandangi gulungan ombak yang terlihat
ganas. Gila. Rasanya aku mulai setengah gila. Perasaan apa ini? Dari awal aku
sungguh tidak mengerti.
“Besok aku tidak akan ada di sini lagi.”
kalimat itu terucap saja tiba-tiba dari bibirku. Dan itu menjadi awal dari
percakapan kami.
“Lantas, aku harus apa? Pergi saja kalau
kamu memang ingin pergi.” Kulihat ia tersenyum.
“Kenapa kamu selalu memakai baju warna
hitam?” tanyaku seolah tak ingin ada hening lagi di antara kami.
“Hanya untuk memperingati kepergian
seseorang. Tapi hari ini adalah hari terakhir aku memakai baju berwarna hitam.
Mmm..mungkin seterusnya aku akan memakai baju warna putih”
“Seterusnya?” aku memandangnya bingung. Dan
seperti biasa, ia hanya tersenyum.
“Memangnya siapa yang kau kenang?” tanyaku
ingin tahu. Ia berubah diam.
“Kekasihmu?” Ia menggeleng.
“Kenapa kamu selalu ke pantai ini setiap
hari?”
“Mengenang yang sudah pergi,” ujarnya.
Namun tetap saja aku merasa tak mendapatkan jawaban yang menjelaskan apa-apa.
Gadis itu kembali diam. Ia meraih kamera ku perlahan.
“Kenapa kamu selalu duduk di sini,
mengamatiku dari tempat ini lalu memotretku secara diam-diam?” ia balik
bertanya kepadaku.
“Karena kamu indah. Kamu terlihat begitu
mempesona saat berlatar langit senja.” Kulihat ia masih sibuk mengamati
gambar-gambar dirinya yang berhasil kuabadikan.
“Keindahan itu tidak abadi...” ujarnya
sambil kembali tersenyum dan mengembalikan SLR ku yang ia pegang lalu ia
beranjak bangkit dari tempat duduknya.
“Besok pagi aku kembali ke Jakarta. Kuharap
ini bukan terakhir kalinya kita bertemu.” Aku berharap itu dapat menahan
kepergiannya. Setidaknya menimbulkan suatu rasa ingin tahu di dalam dirinya
untuk mengenal aku. Untuk kesekian kalinya, ia hanya tersenyum. Ia tetap saja melangkahkan
kakinya perlahan meninggalkan pantai. Aku bangkit berusaha mengejarnya. Kali
ini aku harus tahu siapa namanya.
Ia berhenti dan membalikkan badan ke
arahku. Kami membisu sesaat dengan tatapan yang saling beradu.
“Ingat namaku. Fahrani Keisyani..” aku
tertegun mendengar ucapannya. Kebetulan lagikah ini? Atau ia memang bisa
membaca pikiranku? Kebetulan macam apa yang ingin Tuhan sampaikan?
“Fahrani Keisyani...namaku...” ia mengulang
ucapannya sekali lagi.
“Pulanglah. Jangan ikuti kemana aku pergi.
Suatu saat, dengan sendirinya kamu akan tahu rumahku.” Ia kembali melangkah
pergi meninggalkanku yang masih mematung dengan hati bingung.
“Namaku Bagas Aditya!” teriakku saat ia
mulai menjauh. Tak peduli ia masih mendengarnya atau tidak. Kuharap masih.
...
Perjalanan panjang 13 jam
Jogja-Jakarta dengan kereta api yang kulalui kemarin, sungguh melelahkan. Setibanya
di apartemen, aku langsung tertidur pulas dan terbangun keesokan harinya. Saat
aku kembali membuka mata kuraih kalender kecil yang terletak di meja untuk
melihat kapan kira-kira aku bisa kembali lagi ke Jogja. Kembali bertemu dengan
perempuan yang katanya tak akan lagi mengenakan baju berwarna hitam, Fahrani
Keisyani.
Hari ini Kamis. Jam sudah
menunjukkan pukul 7 pagi. Aku bersiap untuk memulai aktivitas seperti biasanya.
Berangkat kerja dengan TransJakarta menuju daerah perkantoran Sudirman dan
membiarkan mobilku tetap terparkir di garasi alih-alih untuk mengurangi
kemacetan. Sambil menunggu TransJakarta datang, aku mengambil koran pagi yang
memang tersedia di shelter TransJakarta yang berada tak jauh dari apartemenku
ini. Kubaca headline-nya, biasa saja. Masih tentang politik yang terus
saja diperdebatkan. Pandanganku beralih dan fokus pada satu berita yang
membuatku tersentak. Aku segera berlari kembali menuju apartemenku sambil
membawa koran yang baru saja kubaca itu. Kucari kamera SLR-ku. Sial! Aku
terduduk lemas menggerutu. Tak tahu harus berkata apalagi.
Seorang gadis mengenakan baju
berwarna hitam ditemukan tewas di Pantai Samas, Jogjakarta pada Rabu (10/10,)
kemarin pagi oleh beberapa orang nelayan yang baru pulang melaut. Gadis yang
dikenali warga bernama Fahrani Keisyani (22) itu, diduga hanyut terbawa ombak.
Seorang saksi mata menyaksikan ia terus berada di pantai setiap sore sejak
sebulan yang lalu setelah tunangannya telah pergi lebih dulu hanyut di pantai
yang sama. Sebuah keberuntungan jasad Fahrani bisa terbawa ombak hingga kembali
ke pantai sehingga keluarganya bisa mengebumikannya di pemakaman tak jauh dari
rumah mereka di Jalan....
Aku tak lagi membaca lanjutan
beritanya. Aku hanya berulangkali membaca paragraf pertama berita itu. Fahrani
Keisyani. Aku ingat betul, betapa ia memintaku untuk mengingat nama itu. Aku
kembali memerhatikan foto gadis yang dimaksud dalam berita itu ketika ia masih
hidup. Kuutak-atik kembali memori penyimpanan di SLR digitalku berusaha menyocokkan
foto di koran itu dengan foto Fahrani yang ada di kameraku.
Aku masih berusaha untuk menyangkal
bahwa Fahrani yang hanyut kemarin sore
itu bukanlah Fahrani yang selama ini kuamati gerak-geriknya saat menunggu
matahari terbenam. Namun berulangkali aku mencari, hanya ada satu foto
perempuan yang tersisa di sana. Selebihnya foto-foto pemandangan yang
kuabadikan selama perjalanan. Kurasa ia sudah menghapus fotonya yang lain
sewaktu sedang melihat-lihat kameraku sore itu. Bodohnya, aku tak sempat
memindahkannya terlebih dahulu ke leptop atau sekedar mengecek fotonya kembali
selepas sore itu.
Sekarang, satu-satunya yang tersisa
hanya sebuah siluet seorang gadis yang memandang ke arah laut lepas, memandangi
gulungan ombak ditemani sinar mentari yang berwarna oranye. Dalam siluet oranye
pun aku masih bisa mengenali kalau itu memang Fahrani. Hanya saja sekarang, ia
akan terus mengenakan pakaian berwarna putih bersama dengan jasadnya yang akan
dikebumikan.
*23 September 2009

0 komentar:
Posting Komentar