Copyright © ...Pecinta Kata dan Senja...
Design by Dzignine
Jumat, 28 Mei 2010

Gadis Bersiluet Oranye

-->


Sosoknya hadir dalam siluet berlatarbelakang langit senja yang mulai kemerahan. Cukup dari tempatku berdiri sekarang, aku terdiam memandanginya, seorang gadis cantik berbalut pakaian hitam dengan rambut panjangnya yang terurai. Tak banyak yang ia lakukan sejak tadi. Ia hanya berdiri sambil menatap ombak di laut lepas yang sesekali menghampiri. Ia tak bergeming, saat ombak perlahan membasahinya kakinya. Jika ia mulai merasa bosan, ia berjalan beberapa meter sambil menendangi hamparan pasir di hadapannya. Menendang dengan hampa.
Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja sepuluh hari yang lalu. Saat itu kulihat ia seorang diri di pantai ini, berlari dengan riang seolah ingin mengiringi matahari yang perlahan menghilang di ufuk barat. Entah apa yang salah dengan dirinya. Meski senyum tersungging di bibirnya, tatapannya begitu dalam tetapi kosong.
Tanpa alasan yang jelas, aku merasa nyaman memperhatikannya sejak sepuluh hari yang lalu. Dari jarak beberapa meter tempat ia biasa berdiri, aku masih bisa memotretnya dengan SLR digital yang selalu jadi teman setia saat aku pergi. Pernah suatu kali tatapannya yang selama ini acuh, tertuju lurus menembus lensa kamera hingga ke retina mataku. Namun ia tetap saja terlihat angkuh. Seolah tak peduli apa yang kulakukan. Sekalipun sepertinya ia tahu aku baru saja mengabadikan dirinya dengan kamera yang kupegang.

...

            Sebelas hari aku di sini. Tak pernah ada keberanian yang mampu mendorongku untuk mendekati atau sekedar menyapanya. Aku terlalu takut, dia akan merasa terusik dengan pertanyaanku hingga akhirnya dia tak kembali lagi ke pantai ini. Sosoknya menjadi terekam sangat manis dalam memori di otakku. Aku selalu ingat bagaimana angin membelai rambut panjangnya yang hitam legam. Bagaimana ombak membuatnya tertawa. Dan bagaimana pasir menjadi tempat untuknya bercerita.
            Ia masih saja sama sejak pertama kali aku melihatnya. Ia selalu memakai pakaian berwarna hitam. Mungkin ia menyukai warna hitam. Aku mencoba berpikir begitu meskipun terasa janggal. Aku seolah tak peduli lagi logika. Kali ini aku menyerah. Aku dikalahkan oleh perasaan. Semua tentangnya, terlihat begitu indah walau tak banyak yang ku tahu. Bahkan mungkin sebenarnya aku memang tidak tahu apa-apa.
            Kurasakan setetes air jatuh di punggung tanganku. Akupun menengadah menatap langit. Awan kelam sudah memayungiku di sana. Sepertinya gerimis ini akan menjadi hujan lebat. Maka kulangkahkan kakiku menuju cottage tempat aku menginap. Aku sempat menoleh ke arah gadis berbaju hitam itu. Ia masih tetap tersenyum memandangi ombak.

...

            Hari keduabelas dan aku sudah menunggunya sejak tadi. Namun ia tak kunjung dapat kulihat keberadaannya. Aku berjalan menyusuri pantai, berharap dapat menemukan sosoknya. Akan tetapi, Ia tetap tak bisa kutemukan dan itu membuat hatiku mulai gelisah. Aku resah memikirkan segala kemungkinan buruk yang terjadi padanya. Akhirnya, aku kembali ke tempat aku biasa duduk mengamatinya dari kejauhan. Resahku terkalahkan oleh pasrah. Mungkin sekarang ia sedang sakit karena kemarin ia memilih tetap di sini saat akhirnya hujan lebat turun. Atau mungkin, jangan-jangan ia mulai jengah karena sadar selama ini aku selalu memperhatikannya? Pikiranku mulai mengada-ngada. Bodohnya aku. Kenapa harus sekhawatir itu? Dia bukanlah siapa-siapa. Begitupun aku.  Bahkan, kami tak pernah menjalin komunikasi melalui kata-kata. Entahlah. Aku hanya merasa rindu.
     “Mencari aku??” sebuah tanya terucap dari seseorang yang dengan tiba-tiba duduk di sebelahku. Aku serasa ingin melonjak kegirangan melihatnya kembali, terlebih dalam jarak kami yang sedekat ini. Aneh. Perasaan ini sungguh-sungguh aneh.
     “Kenapa?” aku hanya tersenyum membalas semua pertanyaannya. Aaaargh...aku justru  bingung harus berkata apa. Rasanya banyak kata yang berdesakan mengantri untuk diucapkan sehingga aku tak mampu menyusunnya menjadi sebuah kalimat yang rapi. Akhirnya aku berakhir dengan diam dan memilih untuk tetap memerhatikannya saja. Seperti biasa.
            Ia masih duduk di atas pasir persis di sebelahku yang tetap membisu. Sesekali ia tersenyum menatapku tanpa berkata apapun. Hening, hingga akhirnya matahari terbenam dan langit perlahan mulai gelap. Ia masih tetap nyaman memainkan pasir dengan sebatang ranting yang sejak tadi ia pegang.
            Biasanya saat matahari sudah tak terlihat lagi, aku membiarkannya sendiri di pantai ini dan memilih untuk kembali ke cottage tempat aku menginap. Namun kali ini aku tertahan. Bukan, bukan tertahan, melainkan aku sendiri yang menahan diri untuk tidak pergi. Aku ingin lebih puas mengamatinya sebelum lusa pagi aku kembali ke Jakarta.
Air laut mulai pasang. Gadis berpakaian hitam yang masih saja belum ku ketahui namanya itu, bangkit dan beranjak pergi. Aku berniat mengikutinya sekedar ingin tahu di mana ia tinggal. Niatku urung, saat gadis itu menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku. Lalu ia menggeleng seolah ia tahu apa maksudku. Aku tertawa dalam hati. Ikatan batin macam apa ini? Tanpa kata, hanya isyarat yang tertangkap mata, tetapi tetap saja rasanya indah.

...

            Hari berganti. Sekarang, hari ketigabelas, lebih tepatnya hari terakhir aku di pantai ini. Gadis berbaju hitam itu kembali hadir duduk di sebelahku dengan tiba-tiba. Ia tetap memainkan pasir dengan ranting kayu yang ia bawa seperti kemarin. Aku mencoba untuk tak peduli dan membiarkan tatapanku lepas memandangi gulungan ombak yang terlihat ganas. Gila. Rasanya aku mulai setengah gila. Perasaan apa ini? Dari awal aku sungguh tidak mengerti.
     “Besok aku tidak akan ada di sini lagi.” kalimat itu terucap saja tiba-tiba dari bibirku. Dan itu menjadi awal dari percakapan kami.
     “Lantas, aku harus apa? Pergi saja kalau kamu memang ingin pergi.” Kulihat ia tersenyum.
     “Kenapa kamu selalu memakai baju warna hitam?” tanyaku seolah tak ingin ada hening lagi di antara kami.
     “Hanya untuk memperingati kepergian seseorang. Tapi hari ini adalah hari terakhir aku memakai baju berwarna hitam. Mmm..mungkin seterusnya aku akan memakai baju warna putih”
     “Seterusnya?” aku memandangnya bingung. Dan seperti biasa, ia hanya tersenyum.
     “Memangnya siapa yang kau kenang?” tanyaku ingin tahu. Ia berubah diam.
     “Kekasihmu?” Ia menggeleng.
     “Kenapa kamu selalu ke pantai ini setiap hari?”
     “Mengenang yang sudah pergi,” ujarnya. Namun tetap saja aku merasa tak mendapatkan jawaban yang menjelaskan apa-apa. Gadis itu kembali diam. Ia meraih kamera ku perlahan.
     “Kenapa kamu selalu duduk di sini, mengamatiku dari tempat ini lalu memotretku secara diam-diam?” ia balik bertanya kepadaku.
     “Karena kamu indah. Kamu terlihat begitu mempesona saat berlatar langit senja.” Kulihat ia masih sibuk mengamati gambar-gambar dirinya yang berhasil kuabadikan.
     “Keindahan itu tidak abadi...” ujarnya sambil kembali tersenyum dan mengembalikan SLR ku yang ia pegang lalu ia beranjak bangkit dari tempat duduknya.
     “Besok pagi aku kembali ke Jakarta. Kuharap ini bukan terakhir kalinya kita bertemu.” Aku berharap itu dapat menahan kepergiannya. Setidaknya menimbulkan suatu rasa ingin tahu di dalam dirinya untuk mengenal aku. Untuk kesekian kalinya, ia hanya tersenyum. Ia tetap saja melangkahkan kakinya perlahan meninggalkan pantai. Aku bangkit berusaha mengejarnya. Kali ini aku harus tahu siapa namanya.
            Ia berhenti dan membalikkan badan ke arahku. Kami membisu sesaat dengan tatapan yang saling beradu.
     “Ingat namaku. Fahrani Keisyani..” aku tertegun mendengar ucapannya. Kebetulan lagikah ini? Atau ia memang bisa membaca pikiranku? Kebetulan macam apa yang ingin Tuhan sampaikan?
     “Fahrani Keisyani...namaku...” ia mengulang ucapannya sekali lagi.
     “Pulanglah. Jangan ikuti kemana aku pergi. Suatu saat, dengan sendirinya kamu akan tahu rumahku.” Ia kembali melangkah pergi meninggalkanku yang masih mematung dengan hati bingung.
     “Namaku Bagas Aditya!” teriakku saat ia mulai menjauh. Tak peduli ia masih mendengarnya atau tidak. Kuharap masih.

...

            Perjalanan panjang 13 jam Jogja-Jakarta dengan kereta api yang kulalui kemarin, sungguh melelahkan. Setibanya di apartemen, aku langsung tertidur pulas dan terbangun keesokan harinya. Saat aku kembali membuka mata kuraih kalender kecil yang terletak di meja untuk melihat kapan kira-kira aku bisa kembali lagi ke Jogja. Kembali bertemu dengan perempuan yang katanya tak akan lagi mengenakan baju berwarna hitam, Fahrani Keisyani.

            Hari ini Kamis. Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Aku bersiap untuk memulai aktivitas seperti biasanya. Berangkat kerja dengan TransJakarta menuju daerah perkantoran Sudirman dan membiarkan mobilku tetap terparkir di garasi alih-alih untuk mengurangi kemacetan. Sambil menunggu TransJakarta datang, aku mengambil koran pagi yang memang tersedia di shelter TransJakarta yang berada tak jauh dari apartemenku ini. Kubaca headline-nya, biasa saja. Masih tentang politik yang terus saja diperdebatkan. Pandanganku beralih dan fokus pada satu berita yang membuatku tersentak. Aku segera berlari kembali menuju apartemenku sambil membawa koran yang baru saja kubaca itu. Kucari kamera SLR-ku. Sial! Aku terduduk lemas menggerutu. Tak tahu harus berkata apalagi.
            Seorang gadis mengenakan baju berwarna hitam ditemukan tewas di Pantai Samas, Jogjakarta pada Rabu (10/10,) kemarin pagi oleh beberapa orang nelayan yang baru pulang melaut. Gadis yang dikenali warga bernama Fahrani Keisyani (22) itu, diduga hanyut terbawa ombak. Seorang saksi mata menyaksikan ia terus berada di pantai setiap sore sejak sebulan yang lalu setelah tunangannya telah pergi lebih dulu hanyut di pantai yang sama. Sebuah keberuntungan jasad Fahrani bisa terbawa ombak hingga kembali ke pantai sehingga keluarganya bisa mengebumikannya di pemakaman tak jauh dari rumah mereka di Jalan....
            Aku tak lagi membaca lanjutan beritanya. Aku hanya berulangkali membaca paragraf pertama berita itu. Fahrani Keisyani. Aku ingat betul, betapa ia memintaku untuk mengingat nama itu. Aku kembali memerhatikan foto gadis yang dimaksud dalam berita itu ketika ia masih hidup. Kuutak-atik kembali memori penyimpanan di SLR digitalku berusaha menyocokkan foto di koran itu dengan foto Fahrani yang ada di kameraku.
            Aku masih berusaha untuk menyangkal bahwa Fahrani yang hanyut  kemarin sore itu bukanlah Fahrani yang selama ini kuamati gerak-geriknya saat menunggu matahari terbenam. Namun berulangkali aku mencari, hanya ada satu foto perempuan yang tersisa di sana. Selebihnya foto-foto pemandangan yang kuabadikan selama perjalanan. Kurasa ia sudah menghapus fotonya yang lain sewaktu sedang melihat-lihat kameraku sore itu. Bodohnya, aku tak sempat memindahkannya terlebih dahulu ke leptop atau sekedar mengecek fotonya kembali selepas sore itu.       
            Sekarang, satu-satunya yang tersisa hanya sebuah siluet seorang gadis yang memandang ke arah laut lepas, memandangi gulungan ombak ditemani sinar mentari yang berwarna oranye. Dalam siluet oranye pun aku masih bisa mengenali kalau itu memang Fahrani. Hanya saja sekarang, ia akan terus mengenakan pakaian berwarna putih bersama dengan jasadnya yang akan dikebumikan.
                                                                                               

*23 September 2009

0 komentar:

Posting Komentar