Copyright © ...Pecinta Kata dan Senja...
Design by Dzignine
Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 16 Februari 2013

Cara Kami Berbalas Rindu (Part 2)

sudah kusematkan rinduku pada udara pagi. semoga sampai ke relungmu, menyusup tak mau pergi.
sudah kutitipkan senyumku pada senja. semoga tertangkap langsung oleh mu di binar mata paling bahagia.
@saiarini

aku tak pernah bisa marah. karena tiap hela nafas ada rinduku untukmu.
mendekap barisan hariku yang penuh bahagia tumpah ruah, pada sepotong senyum yang kau titipkan di arakan senja
pergi jauh, sudah laraku…
@to_destiny
Senin, 11 Februari 2013

Finally, We Went to Planetarium!






Terakhir ke tempat ini kelas 6 SD dan saya belum mengenakan kacamata. jadi apa yang saya saksikan dalam tayangan (yang ceritanya) ke luar angkasa itu samar. Tak terlihat apa-apa malahan.
Setelah bertahun-tahuntahuntahun (agak lebay) membujuk Langit untuk datang ke tempat ini, finally! We did it together! Setelah berkacamata dan menyaksikan semuanya dengan jelas, voila!! saya makin mencintai langit, isinya, dan Tuhan sebagai Maha Pencipta. Tentu saja berterima kasih pada Langit yang ada di sebelah saya :)
Namun, entah mengapa, semua gambar yang terekam kamera jadi blur semua haha :D

Partner in Crime




Hobi saya ini emang rada beda sama orang kebanyakan. Sukanya jalan-jalan ke museum, berjalan kaki mengitari taman kota, menghabiskan sore di pinggir pantai atau di atas gedung tinggi untuk melihat senja, dan menikmati hujan di beranda rumah. Bersyukurlah karena Langit tak pernah berkeberatan untuk selalu menemani dan menautkan jemari.
u’re the best partner in crime beibiii! :)


Senin, 17 Desember 2012

cara kami berbalas rindu



Langit : jemari kita terkadang lama tak bersentuh.
banyak kata yang hanya berputar di hati membuat gumpalan angan menyelimuti malam.
rindu jadi nyanyian yang datang dari surga, mengikat lamunan dalam tatapanmu yang kian sendu.
kita tak berencana, tapi perahuku selalu menuju pantaimu.
dan cuma senjamu, akhir petaku..
(arifrahman)
Senja : sajakmu jadi makan malam penuh asa. sudah terhidang sejak tadi di piring penuh tawa. aku menamainya sebagai bagian kecil dari bahagia.
ah, tapi gelasku tak pernah penuh. aku selalu haus akan kamu. bertemu sekejap tak lantas menghapus rindu. rasanya, tak pernah cukup waktu.
maka saat kau bertanya, kapan kita akan pulang ke rumah yang sama? aku segera mengamininya dalam sebuah doa.
(pusparini)
Kamis, 13 Desember 2012

Waktu adalah...


waktu adalah kamu...
masa penantian di mana hari-hari dipenuhi rindu ingin selalu bertemu

waktu adalah tawa...
bahagia yang sederhana serupa melihat senja dari atas bianglala

waktu adalah amarah...
yang kemudian mengajarkan aku dan kamu bersabar menghadapi banyak masalah

waktu adalah takdir...
seringkali menjauhkan tapi selalu bisa membawa kita kembali dalam dekapan

waktu adalah cita-cita...
segala usaha dan doa untuk mengubah aku dan kamu menjadi kita 
selamanya


-pada Langit yang pelukannya paling mendamaikan sejagat raya setelah mama tiada-

Senin, 03 Desember 2012

random conversation

mungkin gue ketulah. dulu sering banget ngegodain Langit kaya kuda nil. terus lama-lama gue jadi suka sama kuda nil beneran. maka terjadilah percakapan random di bawah ini pada suatu ketika..

gw : kamu nggak kangen nengokin temen kamu yang lagi ngobak di kebun binatang?
Langit : apaan? badak? itu kan kamu.
gw : kuda nil kaleeee..ayo liat kuda nil! kalo nggak nanti kita miara anak kuda nil ya yoooonk. nanti bikin rumah buat kuda nil berendem juga hehe
Langit : ngasih makannya gimana?
gw : diajarin aja jadi vegetarian dari masih bayi.
Langit : yang bener aja -___-"
gw : haaa lucu kali ya yonk anak kuda nil digendong-gendong ahahaha
Langit : -seketika hening-

Seratus Tiga Puluh Lima :)




November sudah berlalu, sayaang
Kita punya banyak kisah yang terjejak di sana untuk disimpan menjadi cerita
cerita perjalanan masa yang membuat kita tertawa saat mengingatnya di usia senja

Inilah Desember..
Siapkan earphone di telinga, untuk memutar kembali lagu  Efek Rumah Kaca
Inilah bulan yang cuacanya selalu engkau suka
Di mana angin lebih rajin menghantarkan rindu yang terjeda
Langit terlukis begitu sempurna memanjakan mata
Dan hujan akan sering menyapa kita
Mengingatkan untuk selalu saling mendamaikan, menjaga hati pemberian Tuhan.

Menjelang penghujung tahun, sayaaang...
Masih ingatkah kamu ribuan hari yang sudah kita lalui?
cerita kita begitu mejikuhibiniu, bukan?
Jangan minta aku untuk membukukan..
kenang saja dalam buku hati kita yang masih akan terus membalik halaman

Terima kasih untuk selalu ada saat aku berhenti di titik biru
Memberi jeda di saat merah menguasai kita
Dan datang membawa warna cerah di saat aku merasa abu-abu

selamat mengulang tanggal tiga yang ke seratus tiga puluh lima...
semoga takdir tetap menjadikan kita berada dalam satu garis yang sama
Love u as always :)
Jumat, 02 November 2012

Hell-o November!




Menjumpaimu pada senja yang mulai temaram hendak menjemput malam. Engkau membuka pintu dengan tatapan yang entah menuju kemana. Senyummu tak lagi sama. Aku tahu, ada banyak lelah yang hinggap di sana. Namun tanganmu masih lebar-lebar menyambutku seperti biasa. Tanpa perlu banyak bicara, pelukanmu sudah mengatakan segalanya. Ah, sebegitu beratnyakah?

Banyak sunyi yang kita bagi. Jika sudah ku tatap kau langsung ke bola mata, engkau memilih diam atau sekedar mengalihkan pandangan. Banyak kata yang berseliweran di kepala, tapi selalu menjadi urung untuk kutanyakan. Aku menghargai apa yang kamu minta dengan memberi diam. Maka kau hanya semakin erat menggenggam dan membenamkan aku dalam pelukan tanpa ada satu kalimat penjelasan. Ah, sebegitu beratnyakah?

Hening jadi teman kita hingga pagi. Pagi pertama di bulan November. Engkau masih tak berkata-kata. Engkau memilih mengungkapkannya melalui pesan singkat meski jarak kita hanya sehasta. “selamat datang di November”. Hanya itu pesan singkatmu, tak ada harap atau syukur seperti bulan-bulan sebelumnya. Ah, sebegitu beratnyakah?

Sajak panjangmu menjadi sarapanku pagi ini. Kau jabarkan segalanya melalui kata-kata yang telah bermetafora tentang bagaimana dunia yang terus menantang untuk minta dikalahkan. Dunia yang sedang sering singgah dan bertengger di atas bahumu, menyesakkan hatimu, dan memberatkan langkahmu. Dunia yang membuatmu mulai merasa kelelahan karena seolah tak memberikanmu jeda untuk sekedar menghela nafas walau sebentar saja. Ah, ternyata memang seberat itu.

Aku tahu, masih akan ada banyak mendung yang akan menjelang berhari-hari ke depan. Tapi bukankah kita sama-sama mencintai hujan? Bukankah mendung sudah serupa hidangan pembuka yang selalu kita nantikan sebelum menyantap makanan kesukaan? Jadi untuk apa terus dirisaukan?

Aku melepaskan genggaman tangan. Lantas mengetikkan sebuah kalimat yang kukirimkan menujumu. “Sudahlah sayang, November bukankah memang dari dulu selalu begitu?” Engkau tersenyum, kemudian tertawa lepas tanpa beban seolah semua sudah hilang. “Heiy, kamu sudah pulang!” aku berteriak girang.

Jadi, sudahlah sayang, buat apa dirisaukan. Dari dulu, November memang selalu begitu, bukan? Tersenyum saja karena Tuhan sudah menyiapkan jalan lewat setiap usaha dan doa kita yang kita lakukan.

Fiksi.menjelang senja. sehari sebelum tanggal tiga. 

Minggu, 23 September 2012

Sebelas itu Seratus Tiga Puluh Dua, dan itu Kita




SEPTEMBER. Kami selalu menyukai September. Ada banyak momen penting di tanggal-tanggal sakral yang sudah kami tandai. Di awal September misalnya, kami akan selalu penuh suka cita saat mengulang tanggal tiga. Hal itu menjadi begitu istimewa tepat di September ini, karena sebelas menjadi angka milik kami.
            Sebelas, bukanlah waktu yang sebentar jika merujuk pada ukuran tahun. Ya, kamu pasti bisa bayangkan itu. Perjalanan panjang itu penuh liku. Suatu waktu, kami pernah dengan arogannya saling menyakiti dengan berpura-pura tak merasa pada hati yang sebenarnya masih ingin bersama. Lantas, kami memilih untuk melepas pelukan. Kami memilih berbelok untuk membuat cerita baru di mana bukan kami yang menjadi toko utama ceritanya. Kami memang tak lagi berpelukan, namun kami tak pernah melepaskan genggaman tangan. Setiap hari selalu saja ada cerita dari masing-masing kami tentang tokoh cerita baru yang kami punya. Kami tetap bertatap dengan saling ceria dan penuh tawa meski seringnya terlintas rasa kecewa dan tak rela. Kami menyimpannya sebagai diam yang berpenghuni di relung paling dalam.
            Hatilah yang kemudian menuntun kami kembali pada jalur yang dulu di satu titik kami pernah berhenti. Tapi tak semudah itu pada kenyataannya. Kami justru punya musuh besar baru yang membuat cerita seringnya jadi sendu. Kesibukan terlalu menyita waktu, dan komunikasi pada waktu itu tidak begitu saja dapat terbantu melalui telepon seluler atau dunia maya. Ya, sekarang jaraklah yang menjadi musuh besarnya. Bertahun mengiba pada jarak membuat kami seringnya menatap pada langit yang sama, bercerita pada senja, namun dari tempat yang berbeda.
            Senja tak lagi sama beberapa tahun berikutnya. Aku seringnya melihat lembayung yang dibayangi mendung. Tak ada kabar berita, aku seolah tak tahu Langit-ku berada di mana. Tak ada satu pun petunjuk yang aku punya untuk memecahkan misteri, mencari jejak kaki. Aku kehilangan, tak ada lagi pegangan selain Tuhan.
            Tapi rasanya takdir senang bermain dengan kami. Aku yang hampir putus asa berbulan-bulan mencari, suatu hari dipertemukan kembali. Kami percaya bahwa tidak ada yang pernah kebetulan. Segala sesuatu pasti sudah digariskan. Maka kami percaya, inilah takdir Tuhan. Karena sejauh apapun kami mencoba pergi berlari, kami pasti kembali seolah Tuhan selalu punya cara-Nya sendiri untuk menyatukan kami.
            Jadi di sinilah kami, dengan segala upaya melewati banyak duri dan menghancurkan banyak batu besar menjadi kerikil yang kemudian kami sentil. Kami kembali meneruskan perjalanan dalam buku cerita kami yang akan masih terus membalik halaman untuk sebuah akhir yang kami percayai itu bernama BAHAGIA.

            Inilah September, milik aku dan kamu. September milik kita. Terima kasih untuk selalu ada saat aku berhenti di titik biru, memberi jeda  di saat merah menguasai kita, dan datang memberi warna cerah saat aku merasa abu-abu. Selamat mengulang tanggal tiga untuk kamu, lelaki yang kunamai Langit, tempat ternyaman untukku kembali pulang. Selamat Ulang Tahun untuk kita yang kesebelas tahun lamanya. Semoga takdir selalu menjaga aku dan kamu tetap ada dan bersama hingga di akhir cerita.




"...i'll always look back as i walk away
this memory ill last for eternity
and all ouf tears will be lost in the rain
when i've found my way back to your arms again..."
(Westlife - Queen of My Heart)
Minggu, 20 Mei 2012

Balada Senja dan Hujan

          Akulah Senja yang merindukan Hujan. Tak jadi masalah jika langitku tak lagi berwarna oranye atau kemerahan. Berganti dengan gumpalan cumulusnimbus berwarna abu-abu kelabu saat Hujan datang. Karena hanya bersama Hujan, aku merasa nyaman.

         Tapi entah mengapa, Hujan sedang tak bertuan. Ia memilih mendatangi Pagi untuk dibasahi. Saat hujan kembali datang, Senja kecewa. Dengan luka yang ia bawa, Senja tahu ada yang tak lagi sama. Maka ia pun meminta pada Hujan. Haruskah kita kembali berkenalan???

*dalam sebuah komunikasi fatik di pagi hari.*

-Puspa Rini. 190512-
Jumat, 17 Februari 2012

lets make tattoos :)






sometimes we looks like little kid :)

Apalah artinya bunga yang nantinya bisa layu setelah berhari-hari kuletakkan dalam vas berisi air?
Apa pula artinya sajak yang kau ucapkan lantas menguap begitu saja di udara?
Tak perlu bunga atau sajak penuh kalimat mempesona layaknya abege yang sedang jatuh cinta.
Cukup kamu saja, karena kamulah dunia.
Ini bukan valentine, tapi puding cokelat dengan kamu di hadapan.
Lantas kita memakannya lahap dengan penuh senyuman.
Terima kasih sayang :)
Jumat, 05 Agustus 2011

selamat 119!

Aku menamainya Langit karena aku begitu menggilai langit dan semua keindahan yang menjadi isinya.


Aku mencintai Langit, selayaknya aku mencintai hujan, pelangi, dan senja di sore hari.


Aku pernah mencoba menepis Langit, (berdalih) menjadikannya hanya sebagai kenangan manis. Tapi, berulang kali aku mencoba untuk lupa, tetap saja ia tak pernah bisa terkikis. Ia selalu saja menjadi juaranya! Pada akhirnya, membuatku memutuskan untuk karam saja dan berhenti untuk mencari lagi karena aku terlalu cinta dan Langit-lah satu-satunya yang paling mengerti.


Ya, engkaulah Langit, tempat yang kuyakini sebagai rumah ternyaman untukku pulang. Rumah paling nyaman dengan pelukan paling menenangkan betapapun penat begitu kuat mengikat hingga nafas seringkali dibuat tercekat. 


Terimakasih Langit..untuk selalu ada dan menjadi nyata setiap kali aku membuka mata, mengawali hari. Semoga tak akan pernah ada kata jenuh untuk terus meminta pada Pemilik Takdir agar menjadikan kamu dan aku menjadi kita. Semoga kita adalah dua ujung tali takdir yang suatu saat nanti akan terus bersimpulan erat tanpa harus saling membuat sesak.


*untuk tanggal 3 yang ke 119 kalinya..miss u so much!

Rabu, 04 Mei 2011

KITA

Kita adalah sepasang manusia yang begitu mencintai Langit. Maka kita tak akan pernah bosan untuk bercerita tentang hujan, memandangi langit biru saat cerah, atau menyukai awan yang abu-abu kelabu.

Kita adalah sepasang manusia yang terkadang saling mencela kebiasaan masing-masing, tanpa kita sadari sebenarnya kita saling melengkapi. Aku suka rapih, kamu serabakan. Aku panikan, kamu si mister penenang. Kamu pendiam, aku si miss bawel. Saat digabungkan, kita menjadi kombinasi yang menakjubkan.

Kita adalah sepasang manusia yang suka makan. Berdalih akan berdiet untuk menurunkan berat badan, tetap saja kita selalu lahap melihat makanan enak. Diet tak pernah dilaksanakan, yang ada justru saling menjebak satu sama lain untuk makan lebih banyak.

Kita adalah sepasang manusia, yang selalu meminta pada Tuhan untuk selalu dijaga dan tetap bersama hingga di akhir cerita.

*untuk tanggal tiga yang ke seratusenambelas kalinya. terima kasih, Langit untuk perjuangan sembilan tahun yang luar biasa*
Minggu, 16 Januari 2011

ulah Langit hari ini



setelah bercengkrama sampai pagi, saya baru terbangun pukul 11.26 karena dering sms yang ga berhenti2. ya, itu langit..
langit : dah makan siang ni?
saya : baru banguuuun. tadi abis sarapan aku tidur. aku mau ke salon hari ini sehariaaaan
langit : borooooos! NABUNG!
saya : yee..aku tiap bulan juga nabung kaleee
langit : mau ngapain aja sih di salon?
saya : hmmm..macem2 deh hehe
*pembicaraan tentang salon usai dan membicarakan hal lain

13.42
langit : lagi diapain di salon?
saya : hehe ini baru mau berangkat.

15.20
langit : lagi apa?
saya : hmmm..lagi mau dilulur abis di facial hehe
langit : luluraaaaan?
saya : iyeeeee

16.28
langit : belum selesai nyalonnya??
saya : belooom hehe masih lamaaaa kayaknya..

17.03
langit : ni..kamu sampe malem di salon?? kabarin kalo udahan. jangan lupa makan malem
saya : iya kayaknya…iya nanti beres nyalon langsung makan :)

19.08
langit : belum balik juga dari salon? itu salon apa penginapan siih??
saya : hahaha iya iya, ini udah selesai dan akan segera makan

*bawelnya langit…tapi saya suka : )
Sabtu, 25 Desember 2010

Desember

cerita kamu dan aku..biar kita saja yang tahu..i love this december..it’s because of u..thanks darloo :*
Senja pada Langit di desember
Selasa, 07 Desember 2010

untitled


"Galaumu membayangi setiap hela nafasku. 
Di setiap jalanku mengarah ke depan, 
selalu ku pastikan mataku tuk sesekali melihat mu masih setia di sisiku. kerikil kecil sering membuatmu tertinggal di belakang. 
Tapi ku kan selalu menjemputmu dan mengejarmu 
dimanapun kau berhenti"


-Langit-