Panas kota Jakarta terasa makin menyengat. Membuat kulitku nampak mulai menghitam dari sebelumnya. Kota Jakarta makin terasa penat dengan segala aktivitas yang padat dan mobilitas yang seringkali menimbulkan kemacetan. Polusi udara pun ikut menggila, membuat banyak manusia menjadi sesak bernafas karena sedikit udara bersih yang tersisa. Hal itu seolah yang membuat burung-burung enggan untuk berkicau lagi di pagi hari. Karena saat pagi menjelang, mereka sudah disambut dengan asap kendaraan yang banyak mengandung karbondioksida. Hingar-bingar kota Jakarta, sungguh membuat aku begitu merindukan hujan.
Aku begitu merindukan hujan...
Rindu pada harum kedatangannya ketika membasahi tanah dan jalanan beraspal. Rindu pada setiap tetesannya yang berdenting di atap rumah bagai sebuah melodi syahdu yang menenangkan kalbu. Rindu pada kehangatannya yang menyusup bersama udara dingin. Rindu pada nyanyiannya yang penuh dengan ribuan makna.
Aku bersahabat dengan hujan...
Hingga aku berlari ketika hujan pertama yang menggantikan musim panas menyengat itu tiba. Lalu aku berlarian bagai seorang anak kecil yang baru saja mendapat sebuah balon dan permen lolipop berwarna merah muda dari ibunya. Namun aku tertegun. Hening. Langit begitu gelap, membuat pikiranku berkelabat dan berimajinasi tentang “mati”.
Kilat menyadarkan aku yang semula tertegun selama sepersekian detik. Rasanya hujan tidak bersahabat kali ini. Tetesan yang biasanya menyejukkan dan menenangkan, kini terasa amat menggetarkan saat menyentuh kulit. Akupun kembali terpaku dalam keheningan yang dipayungi langit kelam.
Dering telepon membuyarkan lamunanku. Aku melangkah masuk dan mengangkat gagang telepon dengan sebuah firasat aneh yang berdesir dan beredar dalam setiap aliran darah.
“Halo...” sapaku lemah.
“Nak, bisa datang ke sini sekarang??” pertanyaan dari seseorang yang suaranya amat ku kenal terdengar begitu lirih.
“Ada apa, Tante?? Apa yang terjadi??” bukan jawaban yang aku dengar, melainkan sebuah isakan yang berubah menjadi suara tangis yang tertahan.
“Siang tadi, Devo kecelakaan. Sekarang dia ada di ruang ICU.” Tangis tertahan itupun pecah. Gagang telepon segera kuletakkan di tempatnya semula setelah aku tahu nama rumah sakit yang harus segera kutuju.
Tanpa banyak berkata dan berpikir lagi, aku bergegas pergi menghadang hujan yang belum berhenti. Membiarkan tetesannya membasahi raga dan pikiranku yang kalut karena memikirkan dia, seseorang yang sangat aku sayangi, kasihi, dan cintai. Dia, seseorang yang mengikat janji denganku untuk menjadi sahabat sejati.
***
Aku tiba di bangunan besar bercat putih ini. Di mana setiap sudutnya terasa begitu dingin hingga bulu kudukku merinding. Semuanya tampak kaku dan membisu. Kutapaki lantai yang dinginnya merayap lewat telapak kakiku. Dari jauh, ku lihat ibunda Devo, Tante Rista, yang seorang diri berdiri di depan ruang ICU. Kuhampiri ia dalam pakaianku yang basah kuyup, rambutku yang kusut, dan pikiranku yang makin kalut. Ia tersenyum di hadapanku meski ada tetes air mata yang membasahi pipinya. Sungguh aku tahu, itu adalah sebuah senyum yang sangat dipaksakan. Mungkin perasaannya sangat berkecamuk hingga ia tak dapat bedakan lagi mana tawa dan tangis.
Sebenarnya aku ingin bertanya, bagaimana semua ini bisa terjadi pada Devo. Namun aku tak sanggup rasanya membuat Tante Rista menjadi semakin jauh terjatuh dalam kesedihannya.
“Keisya, masuklah. Sepertinya ia menunggu kedatanganmu sejak tadi.” aku melangkah perlahan berharap ini semua hanya mimpi buruk.
“Sya,” langkahku terhenti sesaat dan pandanganku beralih menuju sorot mata Tante Rista yang berusaha tegar. “Relakan dia apapun yang terjadi nanti.” ujarnya pelan sambil memakaikan jaket yang semula ia kenakan ke badanku yang mulai menggigil kedinginan terguyur air hujan.
“Ya, aku harus kuat. Aku harus tegar, apapun yang akan terjadi nanti. Aku harus bisa menguatkan dan menemani Tante Rista karena ia pasti lebih rapuh daripada aku. Ia tak punya seseorang yang bisa menopangnya lagi semenjak Om Tris meninggal enam bulan yang lalu.” aku membatin dalam hati.
Akupun kembali menapaki lantai rumah sakit yang dingin, melangkah masuk menuju ruang ICU. Tak ku hiraukan beberapa suter yang menghampiriku dan berusaha memapahku karena langkahku yang begitu lemah. Aku hanya ingin menghampirinya dengan langkahku sendiri. Menepati janjiku padanya, janji yang pernah kami ikrarkan bersama.
***
Aku lama mematung setelah membuka pintu...Memerhatikan dia terbaring tenang di tempat tidur dengan banyak selang dan kabel yang menempel di badannya.
Aku lama menatapnya...
Sampai akhirnya aku mendekat dan membiarkan air mataku menetes dan jatuh di pelupuk matanya. Berharap ia akan terbangun dari tidurnya lalu tersenyum dan mengucap namaku pelan meski ia masih sulit untuk berbicara.
Aku mengenggam tangan kanannya...
Seolah aku ikut merasakan perjuangannya sebagai hamba Tuhan untuk tetap bisa kembali membuka mata merasakan nikmatnya kehidupan.
Sekian lama aku memandangi dan aku tak menyadari kalau detak jantungnya telah berhenti. Sampai akhirnya seorang suster berteriak dan membuat beberapa suster lain berhamburan masuk dengan tergesa bersama seorang dokter. Semua terlihat begitu sibuk berusaha menyelamatkan Devo hingga tidak memedulikan aku yang masih tertegun di dalam ruangan ini.
Aku tahu arti dari gelengan kepala itu. Rasanya kakiku tak mampu lagi berpijak seolah aku berada di hampa udara. Aku terpojok di sudut ruangan, menyaksikan ia tersenyum lalu melangkah pergi. Aku berusaha membalas senyumannya meski rasanya sulit merelakan hari-hari indah yang akan kulewati tanpanya lagi. Akupun terduduk lesu di sudut rumah sakit yang kaku dalam ruang ICU. Entah apa yang terjadi kemudian. Semua terasa begitu pekat. Aku seolah tak mampu melihat karena terlalu gelap.
***
Langit malam memayungi kami berdua di hamparan rerumputan yang membawa aroma kedamaian. Di bawah hamparan bintang, kami berdua mengikat janji.
“Aku sayang kamu...” aku tersenyum mendengar ucapannya kala itu.
“Berjanjilah, apapun yang akan terjadi nanti, kita akan bersahabat selamanya. Sampai nanti anak dan cucu kita lahir dan kita biarkan mereka akan meneruskan persahabatan kita. Mereka akan saling bersahabat seperti kita.“ aku mengacungkan jari kelingkingku, mengajaknya mengikat janji seperti anak kecil yang sedang berbaikan dengan saling menautkan kelingking mereka.
“Berjanjilah, aku adalah orang yang pertama kali tahu tentang segala kisah suka dan duka yang kau alami.” ia menambahkan yang kubalas dengan sebuah anggukan yang pasti.
“Satu hal lagi...”
“Apa???” tanyaku.
“Aku berjanji akan menemanimu di saat-saat terakhir penghujung waktumu dan kaupun juga harus begitu. Jika suatu saat aku tiba di penghujung waktuku, kau harus ada menemaniku di saat-saat terakhir.” aku tersenyum kemudian memeluknya erat.
***
Masa lalu itu hadir lewat mimpi...
Membangunkan aku dari ketidaksadaranku yang sempat terhenti. Aku kembali pada dunia nyata. Dia sudah terbaring kaku di sana dengan senyum yang sama. Senyum yang sempat ia perlihatkan padaku sebelum ia pergi.
Dia tidak dapat menepati janjinya padaku untuk membiarkan anak dan cucu kami melanjutkan pesahabatan kami. Ia tak akan ada untuk menemaniku di penghujung usiaku karena ia telah pergi lebih dulu. Aku tersenyum mengingat sebuah kalimat yang dulu sering ia ucapkan padaku.
“Pejamkan matamu bila kau rindukan aku dan kaupun akan tahu kalau aku tak pernah pergi jauh, apalagi meninggalkanmu. Aku akan selalu ada di hatimu seperti aku selalu menyimpan bayang wajahmu di hatiku...Whatever tomorrow brings, i’ll be there..Whatever the tears fall, i’ll be there...”
Kematian adalah suatu hal yang penuh misteri. Kita tak pernah tahu kapan ia akan mengetuk dan datang menghampiri. Satu hal yang selalu aku yakini, Devo pergi dengan sebuah cinta yang terpatri di dalam hati...
“Cinta ada untuk cinta itu sendiri, bukan untuk dimiliki. Cinta memang ada untuk dicintai dan diungkapkan sebagai sebuah jembatan baru ke pelajaran-pelajaran kehidupan manusia selanjutnya. Cinta yang akan membuat manusia lebih mengerti siapa dirinya dan siapa penciptanya. Dan, dengan penuh rasa syukur akhirnya manusia menyadari bahwa tidak ada cinta yang paling besar di dunia ini kecuali cinta Sang Pencipta kepada makhluknya. tidak pernah ada cinta yang bisa dimiliki oleh manusia, kecuali cinta dari Sang Pencipta yang tidak pernah berpaling dari manusia dan selalu mencintai makhluk terbaik ciptaan-Nya. Sang Pencipta tidak pernah memberikan apa yang manusia pinta, seperti CINTA…Ia memberi apa yang manusia butuhkan."
[Donny Dhirgantoro, 5 CM]
* untuk seseorang yang selalu mengajarkan aku tentang arti kehidupan. Sungguh tak akan pernah kulupa ribuan hari yang pernah kita lalui bersama.


0 komentar:
Posting Komentar