Headshet di telinga memperdengarkan dendangan lagu dari playlist yang kuputar. Dingin AC di dalam bis menemaniku menuju Jakarta. Dan tanpa sengaja wajahku terkena terik mentari yang tertembus kaca jendela yang tak tertutup tirai. Entah mengapa, aku merasa begitu nyaman menikmati hangatnya ditemani dengan pemandangan pepohonan hijau yang mulai berbunga seiring pergantian musim.
Namun langit nampaknya cepat sekali berubah arah. Terik yang menghangatkan itu terasa hanya sepersekian detik. Langit kembali mendung. Murung seolah berkabung. Seperti lamunanku yang tak tentu ujung.
Aku masih setia di dalam bus ini, menuju Jakarta, dengan seseorang yang sepertinya aku kenal duduk di sebelahku tapi enggan untuk kusapa lebih dahulu. Dan dia pun terlihat acuh, acuh dengan aku yang sedari tadi berbatuk karena gatal tenggorokan ini menyiksaku sehingga membuat bis jadi gaduh.
Aku kembali ke Jakarta. Kembali ke tempat yang aku sebut sebagai “rumah”. Ke tempat yang sangat nyaman di mana biasanya dapat kutemukan pelukan hangat mama dan ucapan bijak papa. Tempat yang saat aku tiba, selalu disambut dengan tatapan rindu mama yang penuh cinta dan tawa khasnya yang tak pernah bisa aku lupa. Dan saat berada di sana, merupakan saat ternyaman yang tak pernah bisa digantikan oleh apapun dan oleh siapapun.
Dulu, kalimat “kembali pulang ke rumah” menjadi kalimat sakral yang selalu aku nantikan untuk dilakukan. Karena di rumah aku bisa bebas berkeluh kesah dengan mama yang tak pernah bosan mendengarkan. Jika aku mulai menangis, ia akan dengan setianya menemani dengan pelukan hangat penuh keibuan, senyum yang menenangkan, dan petuah yang seolah bagaikan oase menyegarkan di tengah padang gurun terpanas di dunia.
Namun, “rumah” yang sekarang, bagiku hanya sebuah objek belaka. Sebuah bangunan kokoh berwarna oranye yang di terasnya terdapat banyak bunga angrek kesukaan papa. Kalimat “kembali pulang ke rumah”, kini seperti tak punya roh lagi. Saat aku pulang, yang ada hanya sunyi, hampa tak bertepi. Rumah seolah tak punya lagi energi semenjak mama pergi. Aku pun susah payah berusaha menghidupkan kembali energi itu..agar oranye di rumah ini sungguh memancarkan keceriaan. Namun sekeras apapun ku mencoba, tetap saja berbeda. Yang ada justru tangis yang tertahan, tawa yang dipaksakan, dan jerit yang tak mampu diteriakkan.
Bila saat itu terjadi,aku hanya mampu menertawakan diri sendiri. Sungguh bangga aku pada mama. Bahkan rumah pun merindukannya yang selama hampir 36 tahun ini selalu mendiami dengan tangannya yang tak perah mengeluh letih. Dan mama selalu punya hati untuk memberikan kehidupan dan energi di rumah kami.
Aku mengaku kalah, Ma. Aku tidak bisa bersahabat dengan rumah. Ia tidak mau menghidupkan kembali kedamaian dan ketenangannya melalui aku. Ia hanya mau memberikan itu untukmu. Maka saat kau pergi, terasa sekali rumah ini begitu sepi.
Kembali pulang ke rumah..
Masihkah kalimat itu sakral untukku?? Aku ragu...
Aku memang senantiasa kembali ke sini, dan akan selalu kembali meski tidak ada lagi hadir mama yang menghidupkannya. Demi papa, yang mengaku selalu tak pernah bisa lupa bayang mama yang selalu ada di setiap sudut rumah. Aku tidak heran mendengarnya. Ya, karena memang mama-lah yang memberi energi kehidupan di rumah oranye kami.
Lantas..kemanakah aku harus pulang???
Kemana rumah yang harus kutuju sekarang??
Hati yang bertanya, namun hati pula yang tak sanggup menjawabnya.


0 komentar:
Posting Komentar