Copyright © ...Pecinta Kata dan Senja...
Design by Dzignine
Tampilkan postingan dengan label hope. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hope. Tampilkan semua postingan
Senin, 07 Januari 2013

Saatnya Peduli untuk Melindungi Diri


Semua berawal dari sini...
“Kalo umur gue nggak panjang, gue titip nanti lo jagain anak gue ya..”
Lidah saya seketika kelu setelah mendengar kalimat itu terlontar dari kerabat dekat saya, MA namanya. Usianya sudah kepala tiga dan berperawakan tinggi kurus. Saya hanya diam, tak menjawab permintaannya saat itu. Ia pun berlalu, tanpa memberikan penjelasan apa-apa. Saya ditinggalkan begitu saja dengan banyak tanda tanya yang menari-nari di kepala.
Menyadari bahwa MA jadi begitu tertutup dan berusaha menghindar untuk bertemu saya, pun dengan orang lain, saya tetap bersikeras mencari tahu. Akhirnya, RF yang merupakan istri MA mau bercerita. Saya ingat betul. Hari itu langit begitu cerah. Namun mendung langsung berpayung di atas kepala saya. Betapa tidak, ternyata MA dinyatakan  oleh dokter mengidap AIDS, sementara RF juga sudah terinfeksi HIV.
Selang beberapa minggu kemudian, saya kembali bertemu dengan MA. Namun, ia sudah tidak lagi menghindari orang lain dan kembali bersikap wajar seperti saat ia belum diberitahu dokter kalau ia mengidap AIDS. Senyumnya pun lebih sumringah, penuh rasa percaya diri. Hal yang terpenting adalah ia tidak lagi membahas soal kematian yang menyeramkan seperti sebelumnya.
“Ternyata penyakit gue nggak seserem yang gue bayangin. Dunia gue nggak akan kiamat cuma gara-gara gue kena AIDS. Masalah hidup-mati, gue udah pasrah sama Tuhan, yang penting sekarang adalah gimana caranya gue harus bisa terus bertahan hidup buat ngebesarin anak semata wayang gue.”
Lantas MA menceritakan pengalamannya saat tergabung dalam sebuah kelompok HIV/AIDS bernama Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Koja Sehati Plus yang berada di bawah naungan RSUD Koja, Rumah Sakit rujukan ARV[1] untuk Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di daerah Jakarta Utara.
          HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan segala penyakit yang datang. Pada saat kekebalan tubuh kita mulai lemah, maka timbullah masalah kesehatan. Gejala yang umumnya timbul antara lain demam, batuk, diare yang terus-menerus. Kumpulan gejala penyakit akibat lemahnya sistem kekebalan tubuh inilah yang disebut AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome). (Spiritia, 2009:4)
          Walaupun begitu, tertular HIV (atau menjadi HIV-positif) bukan berarti orang tersebut langsung jatuh sakit. Seseorang bisa hidup dengan HIV di dalam tubuhnya bertahun-tahun lamanya tanpa merasa sakit atau mengalami gangguan kesehatan yang serius. Lamanya masa sehat ini dipengaruhi oleh keinginan yang kuat dari orang tersebut dan bagaimana orang tersebut menjaga kesehatan dengan pola hidup yang sehat.          
Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara. Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia. Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak. Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya manusia di sana.[2]

            HIV dan AIDS memunculkan berbagai masalah pribadi dan pertanyaan yang sulit terjawab seperti soal kesehatan, keuangan, kematian, perkawinan, dsb. Pada akhirnya hal tersebut membawa dampak negatif bagi siapapun pengidapnya, misalnya trauma, membisu, berprasangka, dan diskriminasi yang sering terkait dengan penyakit ini.
         Saya yang begitu dekat dengan MA dan RF, tentunya tahu bagaimana masa-masa sulit di bulan-bulan awal mereka yang masih sulit menerima kenyataan telah terinfeksi HIV/AIDS. Saya tahu betul, bagaimana mereka jatuh bangun dan saling menguatkan yang dibantu pula oleh keberadaan kelompok dukungan KDS Koja Sehati Plus. Saya yang merasa begitu dekat secara emosional, pastinya sangat marah dan kecewa sekali ketika mengetahui beberapa kerabat menjauhi mereka setelah tahu mereka telah terinfeksi. Bahkan, tak sedikit secara sengaja atau tidak, melakukan perlakuan yang sangat diskriminatif, sehingga melukai hati MA dan RF.
         Oleh karena itu, saya memutuskan untuk bergabung dalam KDS Koja Sehati Plus. Hati saya begitu mantap untuk menjadi OHIDHA[3]. Jadi saya ingin menggali ilmu dan pengetahuan sebanyak-banyaknya tentang HIV/AIDS. Namun yang menjadi hal terpenting adalah saya ingin membuktikan kepada orang banyak, terutama kerabat dekat yang masih termakan stereotype menyesatkan tentang HIV/AIDS. Saya ingin menunjukkan secara nyata bahwa bukan menjadi suatu masalah bila kita berteman atau dekat dengan ODHA. HIV/AIDS tidak akan menular jika kita berinteraksi dengan mereka lewat sentuhan, berbicara, ataupun berpelukan. Besar harapan saya, makin banyak orang yang tak lagi awam bahwa ODHA tidak seharusnya dijauhi. Mereka justru membutuhkan dukungan dan pelukan. Kitalah yang harus membantu menguatkan.

Maka, di sinilah saya...
Rabu, 15 Juni 2011, saya datang untuk pertama kalinya. Saya langsung dikenalkan kepada seluruh ODHA yang ada di KDS Koja Sehati Plus. Mereka sangat hangat penuh kekeluargaan. Terlebih saat tahu saya mau menjadi OHIDHA, mereka begitu terbuka untuk berbagi informasi.
         Selain mengikuti kegiatan kelompok meski tidak selalu rutin, saya juga rajin datang ke RSUD Koja untuk berkonsultasi dengan dokter penanggung jawab KDS Koja Sehati Plus, Dr. Ni Wayan Ani P, SpKJ. Melalui Dr. Wayan saya belajar banyak tentang psikologis ODHA. Perihal bagaimana baiknya saya berkomunikasi dengan ODHA, mengingat banyak dari mereka yang menjadi sangat sensitif bila bersinggungan dengan penyakitnya.
         Dalam kelompok dukungan inilah saya juga menjadi dekat dengan beberapa ODHA lain. Selain RF, saya juga dekat dengan DH dan WT. Kami sering berbagi cerita. Saya pun belajar banyak dari pengalaman yang telah mereka kisahkan.

Kisah RF...
RF adalah seorang ibu rumah tangga dengan satu orang anak laki-laki berusia dua tahun. Dalam kesehariannya, RF merupakan sosok yang sabar dan legowo menerima semua permasalahan dalam hidupnya. Ia bisa bersikap sangat acuh pada orang yang baru ia kenal, tapi bisa dengan gampangnya terbuka tentang masalah hidupnya pada orang yang sudah ia percaya.
          Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa ia akan menjadi seorang ODHA seperti saat ini. Hidupnya berjalan biasa saja sampai akhirnya ia berkenalan dengan MA. Mengatasnamakan cinta, RF bersedia menerima MA yang mantan junkies.
Siapa yang menyangka, perilaku MA yang pernah menggunakan narkoba  ternyata menjadi bumerang bagi keduanya. Beberapa bulan setelah menikah, MA seringkali jatuh sakit dan tak kunjung sembuh meski sudah berganti-ganti dokter. Bermula dari sakit batuk, demam, sakit kulit, hingga akhirnya sakit paru-paru. Merasa ada kejanggalan, dokter paru-paru terakhirnya merujuk MA untuk melakukan Voluntary Counseling Test (VCT)[4].
Dari hasil tes tersebut, diketahui bahwa MA positif AIDS dengan CD4 yang sangat rendah. CD4 adalah sejenis sel darah putih yang dipakai oleh HIV untuk menggandakan diri dan kemudian dibunuhnya. Jumlah CD4 mencerminkan kesehatan sistem kekebalan tubuh (Spiritia, 2009:45). RF sebagai istri pun diminta pula oleh dokter untuk melakukan VCT. Ternyata hasil tes juga menunjukkan bahwa ia telah terinfeksi HIV dan kemungkinan besar tertular dari MA melalui hubungan suami istri.
“Sebenernya udah feeling juga sih kalo gue bakalan positif juga. Soalnya MA kan udah positif udah mana dia CD4 nya rendaaaaah banget waktu itu. Bener ternyata hasilnya positif...”[5]
           
Kisah DH...
Sebagai seorang ibu dengan tiga anak, DH mengetahui bahwa ia terinfeksi bermula dari almarhum suaminya yang dirawat di Rumah Sakit Koja karena menderita diare akut dan infeksi paru-paru. Setelah pemeriksaan, ternyata almarhum suaminya dinyatakan dokter telah positif AIDS. DH dan ketiga anaknya pun harus melakukan pemeriksaan. Dari hasil pemeriksaan tersebut akhirnya DH mengetahui bahwa dirinya beserta anak kedua dan ketiganya juga telah terinfeksi HIV.
           Tak pernah terbayangkan dalam benak DH bahwa ia akan tertular HIV dari suaminya. Diakuinya, tidak pernah ada hal yang mencurigakan dari suaminya selama ini. Siapa menyangka, bahwa suaminya pernah terjerumus narkoba. Ia baru mengetahui hal tersebut tak lama setelah suaminya dinyatakan positif terinfeksi HIV. Itupun ia ketahui dari kakak iparnya.
“Pas tahu hasilnya, aku mau marah banget rasanya sama suami. Pengen maki-maki, sebeeeeeeel banget. Tapi aku nggak tega juga dia lagi sakit gitu di rawat kan. Mau teriak sekenceng-kencengnya rasanya tapi nggak bisa. Teriak aja d dalam hati. Yang pasti aku nangis, Mbak, karena aku ngerasa sendiri di dunia ini.”[6]

            DH termasuk orang yang beruntung karena keluarganya mendukung dan tidak mendiskriminasikan dirinya yang telah terinfeksi. Namun, penolakan sempat ia terima dari keluarga almarhum suami dan tetangganya. Keluarga dari pihak suami justru menjauhi DH dan ketiga anaknya karena merasa takut tertular. Hingga saat ini, mereka seringkali pura-pura tidak mengenali DH jika tanpa sengaja berpapasan di jalan. Begitu pun dengan tetangga DH, mereka langsung menjauhi keluarga DH karena yakin DH dan anak-anaknya pasti juga telah terinfeksi.
“...Waktu suami aku meninggal, pada rame Mbak tetangga aku banyak yang ngomongin kalo suami aku kena AIDS. ... Dulu sebelum tahu aku positif, tetangga pada baik-baik, Mbak. Tapi pas tahu aku sama anak-anak terinfeksi mereka berubah sikap jadi mulai menjauh juga. Mungkin karena mereka takut tertular juga.”[7]

Kisah WT...
Pria keturunan Jawa ini merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara. Tinggal terpisah dengan orang tua sejak lulus SMA membuatnya mandiri untuk berjuang keras bertahan hidup. Berawal dari pekerjaannya sebagai pramusaji di sebuah restoran, ia pun memiliki pekerjaan sampingan yang “tidak biasa”. Wajahnya yang tampan dan ketertarikannya pada sesama jenis, dijadikan sarana agar ia bisa mendapatkan penghasilan tambahan.
          WT pertama kali mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi di awal tahun 2009 ketika ia tergabung dalam sebuah Yayasan khusus untuk kaum gay. Dalam Yayasan tersebut terdapat sebuah dokter keliling yang rutin melakukan pemeriksaan setiap enam bulan sekali. Sejak dinyatakan positif, WT berhenti melakukan pekerjaan sampingannya dan memilih untuk fokus di Yayasan dan kemudian bergabung dengan KDS Koja Sehati Plus.
          Dengan pertimbangan yang matang, akhirnya WT memberanikan diri untuk membuka statusnya kepada keluarga. Beruntung, pihak keluarga tidak ada yang menjauhinya. Selain itu, WT juga memberanikan diri bercerita pada kekasihnya. WT bersyukur kekasihnya memutuskan untuk tetap bersamanya sampai saat ini. WT pun menjaga kekasihnya dengan safety sex menggunakan kondom dan rutin melakukan pemeriksaan HIV/AIDS untuk kekasihnya supaya tidak tertular.
            “Aku ngasih tahunya pas udah pacaran dua bulan. ... Aku sih nyuruh dia terus buat ngecek. ... Pokoknya ikut tes dari yang biasa-biasa aja sampe yang bener-bener bayar, untung hasilnya selalu negatif. Semoga terus-terusan negatif. Aku kalo ‘maen’ sama dia emang selalu ngutamain safety.”[8]

Be Safety, please...
Itu beberapa kisah yang saya temui. Kebanyakan anggota di KDS Koja Sehati Plus ini memang perempuan. Sangat disayangkan, hampir semuanya terinfeksi dari pasangan mereka.  Tidak bisa dipungkiri, sebagai sesama perempuan, saya merasa begitu sedih. Bahkan mengingat keluh-kesah mereka selalu membuat saya sukses hujan di pelupuk mata. Rasanya ingin marah kepada pasangan mereka dan bertanya, “Kenapa kamu begitu tega menularkannya?”
         Itu saya. Bayangkan bagaimana perasaan mereka saat pertama kali tahu telah terinfeksi. Beberapa bilang, rasanya seperti dunia runtuh di depan mata. Tak sedikit pula yang mau lebih cepat mengakhiri hidupnya. Butuh keteguhan dan keikhlasan hati yang besar untuk menerima. Dan mereka semua sudah memiliki itu. Tidak ada penyesalan atau menyalahkan pasangan yang telah menularkan. Mereka justru bahu-membahu untuk saling menguatkan. Pun yang telah ditinggalkan, mereka masih punya segudang alasan untuk tetap bertahan.
         Seperti yang sudah saya tulis di awal, banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari kisah hidup mereka. Selain keteguhan dan keikhlasan hati, saya jadi begitu menyadari bahwa keberadaan kondom sangatlah penting, terutama sebagai alat perlindungan diri saat melakukan hubungan dengan pasangan. Terlepas dari anggapan beberapa orang yang berfikir sosialisasi kondom justru berjerumus pada kemaksiatan, kita tetap tidak bisa memungkiri kalau keberadaan kondom memang sangat diperlukan.
         Penggunaan kondom untuk sesama ODHA saja sangat penting. Hal tersebut dipaparkan secara jelas oleh  Dr. Ni Wayan Ani P, SpKJ., “Jika pasangan sama-sama positif dalam artian mereka berdua adalah ODHA, maka dalam berhubungan intim pun mereka wajib untuk tetap menggunakan kondom. Kenapa? Karena tipe virus yang dimiliki oleh masing-masing ODHA itu tidak selalu sama. Berbeda. Jika mereka berhubungan tanpa menggunakan kondom, maka penularan akan terjadi kembali. Yang ditularkan lagi adalah tipe virus yang berbeda tadi. Jadi virus yang dimiliki si suami bisa pindah ke istri, begitupun sebaliknya. Jika terus-terusan, tentunya akan menjadi suatu hal yang bisa membahayakan.”
         Kisah WT mungkin bisa untuk dijadikan panutan. Dalam konteks, dia tahu kalau dia telah terinfeksi. Dia begitu sayang pada pasangannya. Oleh karena itu, ia sangat menjaga pasangannya dengan melakukan safety sex menggunakan kondom. Selain itu dia juga rutin melakukan pemeriksaan. Sampai detik ini, hasil pemeriksaan terhadap pasangan WT selalu negatif. Dan semoga seterusnya begitu.
         See? Bagi ODHA saja itu sangat penting. Bagaimana dengan saya, kamu, dengan kita? Tanpa bermaksud mendahului takdir, bayangkan, berapa banyak kepala yang bisa diselamatkan, yang bisa terhindar infeksi HIV/AIDS akibat tertular dari pasangan, jika saja mereka mau menggunakan kondom. Jika selama ini kamu merasa bahwa kamu sudah hidup sehat, jauh dari narkoba, dan berkomitmen untuk setia pada pasangan, jangan dulu merasa senang. Lihat kembali kasus yang dialami oleh DW. Ia melakukan hal yang baru saja saya tulis di kalimat sebelumnya. Namun, tak ada yang bisa menjamin kalau pasangan kita juga melakukan hal yang sama kan?
         Terlebih jika kamu, yang secara sengaja atau tidak menemukan dan membaca tulisan ini, sudah menyadari kalau kamu pernah melakukan hal-hal yang bisa memicu HIV/AIDS. Penting untuk kamu menggunakan kondom jika ‘berhubungan’. Jangan pernah merasa takut untuk segera memeriksakan diri demi kesehatan kamu dan pasangan. MA, kerabat dekat saya yangs aya ceritakan di awal, merasa begitu bersalah dan menyesal sampai dengan detik ini karena telah menularkan HIV kepada RF. Kamu tidak mau mengalami hal yang sama kan?
          Saya berharap, kamu yang membaca tulisan ini jadi begitu tergugah untuk menyadari bahwa penggunaan kondom itu penting untuk menjaga diri sendiri dan pasangan. Bukan penting untuk ODHA saja, tapi juga untuk kita semua. Saya sangat percaya, tak ada satu orang pun di dunia ini yang mau terinfeksi HIV/AIDS, yang membuat ODHA harus rutin minum obat sampai mereka menutup usia. Oleh karena itu, mari kita lakukan yang kita bisa untuk membantu mengurangi jumlahnya dari sekarang.
          Ingat, JAUHI VIRUSNYA, BUKAN ORANGNYA! Salah satu caranya adalah dengan setia kepada pasangan. Gunakan kondom sebagai salah satu wujud kasih sayang. So, don’t forget to be safety with use ur condom, please...








Catatan :
-   >> Beberapa data dari tulisan ini diambil dari skripsi saya berjudul “Konstruksi Pengalaman ODHA dalam Berkelompok.”
-     >>  Narasumber MA, RF, DW, dan WT telah memberikan izin untuk menuliskan kisah mereka dengan catatan identitas telah disamarkan.




[1] ARV atau Antiretroviral adalah obat yang digunakan untuk mengobati retrovirus seperti HIV, untuk menghambat perkembangbiakannya.
   http://id.termwiki.com/EN:antiretroviral_therapy_%28ART%29 diakses pada tanggal 28 November 2011 pukul 10:57 WIB
[2]  id.wikipedia.org/wiki/AIDS diakses pada tanggal  13 Mei 2010 pukul 3:24 WIB
[3] OHIDHA : Orang yang tidak terinfeksi HIV/AIDS (HIV-negatif) namun hidup berdampingan dengan ODHA. Misal: keluarga, pasangan hidup, kerabat, dll.
[4] Proses konseling pra testing, konseling post testing, dan testing HIV secara sukarela yang bersifat confidential dan secara lebih dini membantu orang mengetahui status HIV (http://kpa-provsu.org/vct.php) diakses pada tanggal 13 September 2011 pukul 22.18
[5] Wawancara dengan RO pada 19 Juli 2011
[6] Wawacara dengan DH pada 28 Juli 2011
[7] Wawancara dengan DH pada 3 Agustus 2011
[8] Wawancara dengan WT pada 19 September 2011

Senin, 03 Desember 2012

Seratus Tiga Puluh Lima :)




November sudah berlalu, sayaang
Kita punya banyak kisah yang terjejak di sana untuk disimpan menjadi cerita
cerita perjalanan masa yang membuat kita tertawa saat mengingatnya di usia senja

Inilah Desember..
Siapkan earphone di telinga, untuk memutar kembali lagu  Efek Rumah Kaca
Inilah bulan yang cuacanya selalu engkau suka
Di mana angin lebih rajin menghantarkan rindu yang terjeda
Langit terlukis begitu sempurna memanjakan mata
Dan hujan akan sering menyapa kita
Mengingatkan untuk selalu saling mendamaikan, menjaga hati pemberian Tuhan.

Menjelang penghujung tahun, sayaaang...
Masih ingatkah kamu ribuan hari yang sudah kita lalui?
cerita kita begitu mejikuhibiniu, bukan?
Jangan minta aku untuk membukukan..
kenang saja dalam buku hati kita yang masih akan terus membalik halaman

Terima kasih untuk selalu ada saat aku berhenti di titik biru
Memberi jeda di saat merah menguasai kita
Dan datang membawa warna cerah di saat aku merasa abu-abu

selamat mengulang tanggal tiga yang ke seratus tiga puluh lima...
semoga takdir tetap menjadikan kita berada dalam satu garis yang sama
Love u as always :)
Jumat, 02 November 2012

Hell-o November!




Menjumpaimu pada senja yang mulai temaram hendak menjemput malam. Engkau membuka pintu dengan tatapan yang entah menuju kemana. Senyummu tak lagi sama. Aku tahu, ada banyak lelah yang hinggap di sana. Namun tanganmu masih lebar-lebar menyambutku seperti biasa. Tanpa perlu banyak bicara, pelukanmu sudah mengatakan segalanya. Ah, sebegitu beratnyakah?

Banyak sunyi yang kita bagi. Jika sudah ku tatap kau langsung ke bola mata, engkau memilih diam atau sekedar mengalihkan pandangan. Banyak kata yang berseliweran di kepala, tapi selalu menjadi urung untuk kutanyakan. Aku menghargai apa yang kamu minta dengan memberi diam. Maka kau hanya semakin erat menggenggam dan membenamkan aku dalam pelukan tanpa ada satu kalimat penjelasan. Ah, sebegitu beratnyakah?

Hening jadi teman kita hingga pagi. Pagi pertama di bulan November. Engkau masih tak berkata-kata. Engkau memilih mengungkapkannya melalui pesan singkat meski jarak kita hanya sehasta. “selamat datang di November”. Hanya itu pesan singkatmu, tak ada harap atau syukur seperti bulan-bulan sebelumnya. Ah, sebegitu beratnyakah?

Sajak panjangmu menjadi sarapanku pagi ini. Kau jabarkan segalanya melalui kata-kata yang telah bermetafora tentang bagaimana dunia yang terus menantang untuk minta dikalahkan. Dunia yang sedang sering singgah dan bertengger di atas bahumu, menyesakkan hatimu, dan memberatkan langkahmu. Dunia yang membuatmu mulai merasa kelelahan karena seolah tak memberikanmu jeda untuk sekedar menghela nafas walau sebentar saja. Ah, ternyata memang seberat itu.

Aku tahu, masih akan ada banyak mendung yang akan menjelang berhari-hari ke depan. Tapi bukankah kita sama-sama mencintai hujan? Bukankah mendung sudah serupa hidangan pembuka yang selalu kita nantikan sebelum menyantap makanan kesukaan? Jadi untuk apa terus dirisaukan?

Aku melepaskan genggaman tangan. Lantas mengetikkan sebuah kalimat yang kukirimkan menujumu. “Sudahlah sayang, November bukankah memang dari dulu selalu begitu?” Engkau tersenyum, kemudian tertawa lepas tanpa beban seolah semua sudah hilang. “Heiy, kamu sudah pulang!” aku berteriak girang.

Jadi, sudahlah sayang, buat apa dirisaukan. Dari dulu, November memang selalu begitu, bukan? Tersenyum saja karena Tuhan sudah menyiapkan jalan lewat setiap usaha dan doa kita yang kita lakukan.

Fiksi.menjelang senja. sehari sebelum tanggal tiga. 

Minggu, 23 September 2012

Sebelas itu Seratus Tiga Puluh Dua, dan itu Kita




SEPTEMBER. Kami selalu menyukai September. Ada banyak momen penting di tanggal-tanggal sakral yang sudah kami tandai. Di awal September misalnya, kami akan selalu penuh suka cita saat mengulang tanggal tiga. Hal itu menjadi begitu istimewa tepat di September ini, karena sebelas menjadi angka milik kami.
            Sebelas, bukanlah waktu yang sebentar jika merujuk pada ukuran tahun. Ya, kamu pasti bisa bayangkan itu. Perjalanan panjang itu penuh liku. Suatu waktu, kami pernah dengan arogannya saling menyakiti dengan berpura-pura tak merasa pada hati yang sebenarnya masih ingin bersama. Lantas, kami memilih untuk melepas pelukan. Kami memilih berbelok untuk membuat cerita baru di mana bukan kami yang menjadi toko utama ceritanya. Kami memang tak lagi berpelukan, namun kami tak pernah melepaskan genggaman tangan. Setiap hari selalu saja ada cerita dari masing-masing kami tentang tokoh cerita baru yang kami punya. Kami tetap bertatap dengan saling ceria dan penuh tawa meski seringnya terlintas rasa kecewa dan tak rela. Kami menyimpannya sebagai diam yang berpenghuni di relung paling dalam.
            Hatilah yang kemudian menuntun kami kembali pada jalur yang dulu di satu titik kami pernah berhenti. Tapi tak semudah itu pada kenyataannya. Kami justru punya musuh besar baru yang membuat cerita seringnya jadi sendu. Kesibukan terlalu menyita waktu, dan komunikasi pada waktu itu tidak begitu saja dapat terbantu melalui telepon seluler atau dunia maya. Ya, sekarang jaraklah yang menjadi musuh besarnya. Bertahun mengiba pada jarak membuat kami seringnya menatap pada langit yang sama, bercerita pada senja, namun dari tempat yang berbeda.
            Senja tak lagi sama beberapa tahun berikutnya. Aku seringnya melihat lembayung yang dibayangi mendung. Tak ada kabar berita, aku seolah tak tahu Langit-ku berada di mana. Tak ada satu pun petunjuk yang aku punya untuk memecahkan misteri, mencari jejak kaki. Aku kehilangan, tak ada lagi pegangan selain Tuhan.
            Tapi rasanya takdir senang bermain dengan kami. Aku yang hampir putus asa berbulan-bulan mencari, suatu hari dipertemukan kembali. Kami percaya bahwa tidak ada yang pernah kebetulan. Segala sesuatu pasti sudah digariskan. Maka kami percaya, inilah takdir Tuhan. Karena sejauh apapun kami mencoba pergi berlari, kami pasti kembali seolah Tuhan selalu punya cara-Nya sendiri untuk menyatukan kami.
            Jadi di sinilah kami, dengan segala upaya melewati banyak duri dan menghancurkan banyak batu besar menjadi kerikil yang kemudian kami sentil. Kami kembali meneruskan perjalanan dalam buku cerita kami yang akan masih terus membalik halaman untuk sebuah akhir yang kami percayai itu bernama BAHAGIA.

            Inilah September, milik aku dan kamu. September milik kita. Terima kasih untuk selalu ada saat aku berhenti di titik biru, memberi jeda  di saat merah menguasai kita, dan datang memberi warna cerah saat aku merasa abu-abu. Selamat mengulang tanggal tiga untuk kamu, lelaki yang kunamai Langit, tempat ternyaman untukku kembali pulang. Selamat Ulang Tahun untuk kita yang kesebelas tahun lamanya. Semoga takdir selalu menjaga aku dan kamu tetap ada dan bersama hingga di akhir cerita.




"...i'll always look back as i walk away
this memory ill last for eternity
and all ouf tears will be lost in the rain
when i've found my way back to your arms again..."
(Westlife - Queen of My Heart)
Minggu, 20 Mei 2012

Balada Senja dan Hujan

          Akulah Senja yang merindukan Hujan. Tak jadi masalah jika langitku tak lagi berwarna oranye atau kemerahan. Berganti dengan gumpalan cumulusnimbus berwarna abu-abu kelabu saat Hujan datang. Karena hanya bersama Hujan, aku merasa nyaman.

         Tapi entah mengapa, Hujan sedang tak bertuan. Ia memilih mendatangi Pagi untuk dibasahi. Saat hujan kembali datang, Senja kecewa. Dengan luka yang ia bawa, Senja tahu ada yang tak lagi sama. Maka ia pun meminta pada Hujan. Haruskah kita kembali berkenalan???

*dalam sebuah komunikasi fatik di pagi hari.*

-Puspa Rini. 190512-
Sabtu, 19 Mei 2012

Sebut Saja ini FIKSI


     
           Apa ini? Sudah hampir setengah empat pagi!
       Ini adalah malam kesekian di mana aku tak dapat lagi tertidur dengan pulas. Jangankan pulas, rasa kantuk pun seolah sedang pergi berjalan-jalan dan lupa untuk kembali pulang. Ah, menyoal tentang tidur, aku jadi kembali teringat ocehan-ocehan bawel yang sering mampir di telinga atau lewat pesan singkat “Tidur itu hanya tinggal memejamkan mata. Biarkan otak berhenti dulu bekerja. Dia juga butuh istirahat!” atau kalimat-kalimat senada yang tak pernah bosan ku dapatkan tentang larangan begadang.
       Ini sudah malam kesekian, dimana aku tak bisa menjangkau kamu. Bukan lagi karena jarak, tapi perkara orang-orang di masa lalu yang rasanya perlahan berubah menjadi benalu. Bukan pula karena tak ada kesempatan, tapi keadaan yang selalu saja sukses dijadikan kambing hitam.
      Kamu terus saja memintaku untuk diam, tak memberimu erangan. Mungkin kamu (tidak sengaja) lupa atau memang kamu (pura-pura) tidak tahu, aku selalu saja geregetan jika harus menunggu sesuatu yang belum terselesaikan. Kuajak kau berbincang, tapi sekali lagi kamu meminta diam. Baiklah, mungkin memang itu yang kamu butuhkan. Aku akan diam seperti yang kamu minta. Tapi bolehkan aku balik meminta? Tolong jangan terlalu lama! Aku takut nanti rasaku tak lagi sama.
        Hari makin beranjak pagi. Aku masih terjaga dengan banyak pertanyaan mengapa yang memenuhi isi kepala. Jika aku boleh berumpama, rasanya seperti ada di atas bianglala yang terhenti di udara. Mataku lapang, luas memandang sekitaran. Tapi sekelilingku hanya ada padang pasir gersang yang tak bertuan. Aku pun merasakan kekeringan, butuh minuman.
       Hari sudah pagi. Aku masih saja mengharap ada hati di sana yang masih peduli, mengingat kalau aku juga punya hati yang belum bisa lupa bagaimana rasanya kecewa.


*sebuah part fiksi menjelang pagi dengan nyamuk-nyamuk yang kubiarkan merdeka sampai akhirnya mereka mati karena kekenyangan dan tak mampu lagi untuk terbang.*
      
-Puspa Rini.190512-

*photo taken from kfk.kompas.com*

Sabtu, 18 Juni 2011

Untuk Ayah

 

Entah mengapa, akhir-akhir ini aku begitu sering mengingat ayah yang tinggal terpisah jauh denganku. Tapi aku selalu saja enggan untuk memulai bertanya apakah ia baik-baik saja di sana. Kupikir, aku selalu menyebut namanya pada Tuhan dalam setiap doa. Jadi aku yakin, ia pasti baik-baik saja.           Namun, ada yang berbeda dari mengingat ayah kali ini. Entah mengapa rasanya ingin menangis dan segera pulang untuk memeluknya. Lagi-lagi, aku terlalu ragu untuk melakukannya. Mengingat “pulang” tak lagi kutujukan pada rumah besar bercat merah muda tempat ayah tinggal setelah ibu tiada.
           Tak banyak yang kuingat tentang aku dan ayah semasa aku balita. Yah, mungkin karena aku masih terlalu muda untuk memahami dan memaknai sesuatu pada waktu itu. Beranjak usia sekolah, aku ingat betul, tak ada yang bisa membangunkanku pagi hari selain ayah. Bahkan ibu kerapkali menyerah dan akhirnya memanggil ayah untuk membangunkanku. Bukannya aku tak mau dibangunkan ibu, aku sengaja menunggu ayah datang. Sebelum ia berangkat kerja, aku pasti akan merajuk manja. Aku baru mau bangun dan berangkat sekolah jika ayah menggendongku dari kamar tidur hingga tepat di depan pintu kamar mandi. Meski makin besar hal itu tak setiap hari kulakuan, tapi itu bertahan hingga aku kelas 6 SD! Haha..tertawalah..itu memang benar adanya :)

            Aku adalah anak perempuan ayah satu-satunya. Makin dewasa, aku jarang berkomunikasi dengan ayah. Mungkin karena banyak waktu yang ia habiskan untuk bekerja. Aku tak pernah mengeluh saat tak bisa pergi tamasya keluarga di hari libur karena ayah seringnya terlampau sibuk dengan rutinitasnya. Aku juga tak pernah marah saat ayah merasa tak perlu mendengarkan aku bercerita atau sekedar bertanya tentang kejadian apa yang kualami di sekolah, bagaimana teman-temanku, bagaimana perasaanku saat pertama kali mengikuti lomba menulis dan mendapatkan piala. Ya, ia tak pernah menanyakan hal sedetail itu seperti ibu. Ia hanya akan bertanya, pelajaran tambahan apa yang aku butuhkan? Mengapa aku lebih banyak membaca buku novel ketimbang buku pelajaran? justru hal-hal seperti itu yang sering terlontar dari bibirnya. Tapi aku cukup tau bahwa ia mencintaiku saat ia selalu menyempatkan mengantarku ke sekolah sebelum ia berangkat kerja. Ia yang paling khawatir saat aku sakit meski cuma demam biasa. Ia yang paling cemas jika aku mogok makan saat marah. Dan ia selalu menggenggam tanganku saat berjalan. Tak peduli dengan ibu yang seringkali memilih mengalah berjalan di belakang karena ayah sudah lebih dulu menuntunku erat.
            Makin dewasa, komunikasi aku dan ayah mulai kaku. Aku pun tak pernah berbagi cerita dengan ayah kecuali hal-hal yang sifatnya untuk jangka panjang, seperti saat menentukan aku akan melanjutkan kuliah kemana setelah lulus SMA. Aku masih ingat betul, mungkin itulah pertama kalinya aku dan ayah bertengkar hebat. Saat ayah memintaku masuk ke universitas X dan aku hendak ke universitas Y. Berhari-hari aku dan ayah tak bertegur sapa.  Membuat ibu hanya geleng-geleng kepala. Tapi pada akhirnya, ayah tetap menangis bangga saat tahu aku lulus SPMB dan diterima di universitas Y. Aku tak henti melihatnya tersenyum semalaman. Ah, rasanya seperti kau berhasil membawa pelangi ke hadapannya. Pelangi yang tak hanya terdiri dari tujuh warna mejikuhibiniu. Tapi ribuan warna, yang tak dapat terdeskripsikan rasa bahagianya. Aku mencintai ayah, dan rasanya tak ingin berhenti untuk terus membuatnya tersenyum bangga.
            Akupun merantau. Terpisah jauh dengan ayah dan ibu. Percayakah kamu, ayah jarang sekali menghubungiku entah itu telepon atau sms sekalipun. Bahkan ayah seringkali marah-marah pada ibu jika kedapatan sering menghubungi aku. Akhirnya ibu sering sembunyi-sembunyi jika ingin berbincang lama denganku di telepon. Akupun diminta ayah untuk tidak sering pulang ke rumah meski setiap akhir pekan aku tidak ada kerjaan di kosan. Ayah beralasan, tak ingin aku capek di jalan kalau hanya sekedar libur tiga hari. Aku terima saja tanpa banyak bertanya. Akhirnya bertahanlah aku sebagai anak rantauan yang baru pulang ke rumah saat lebaran tiba. Makin jarangnya aku berkomunikasi dengan ayah, makin terasa pula “jarak” antara aku dan ayah. Aku lebih nyaman dengan ibu. Ya, ibu sangat mengenal aku. Semuanya ia tahu. Hingga pada suatu ketika, akhirnya ibu bercerita tentang alasan ayah yang memintaku untuk tidak sering pulang dan membatasi ibu untuk tidak terlalu sering berkomunikasi denganku. Ayah hanya ingin aku tidak menjadi anak yang manja. Ia ingin aku bisa dewasa tanpa selalu bergantung pada orang tua. Meski ia tak pernah mendengarkan ceritaku, tak menanyakan kabarku, ia selalu bertanya pada ibu dan meminta pada ibu untuk tidak menyampaikan bahwa sebenarnya ia sangat rindu padaku. Sekali lagi aku tahu, ayah begitu mencintaiku. Lantas akupun mengirimkan sms pada ayah, mengatakan kalau aku menyayanginya. Ayah tak membalas apa-apa. Tapi dari ibu aku tahu, ayah menangis terharu membaca sms ku.
            Ibupun tiada tanpa pernah aku dan ayah duga. Aku tahu, ayah begitu kelimpungan menghadapi aku. Ia tidak tahu harus bagaimana berkomunikasi yang baik denganku. Ia tidak tahu apa kebiasaanku, apa yang aku suka, dan apa yang tidak aku suka. Ibu yang paling tahu dan ia tak sempat menanyakan itu pada ibu hingga akhirnya ibu telah lebih dulu ke surga. Ya, tinggal aku dan ayah, berdua. Bayangkan betapa canggungnya aku dan ayah berkomunikasi. Tapi aku dan ayah selalu mencoba untuk memahami satu sama lain, mencoba untuk dekat, dan aku mencoba bercerita seperti saat aku luwes bercerita pada ibu. Aku tau sangat berbeda rasanya. Banyak hal yang tak biasa dan terlalu sulit untuk dijadikan kebiasaan baru. Karena aku sudah terlalu candu bercerita pada ibu.
            Aku dan ayah, kami adalah dua manusia yang sama-sama keras kepala. Kami, seringnya berbeda pendapat dan tak ada yang mau mengalah. Tapi aku tetap sayang pada ayah, seperti aku tahu ayah juga sangat menyayangi aku. Ya, kami saling menyayangi dengan cara kami sendiri. Kami memiliki bentuk kedekatan yang berbeda dengan cara mencintai yang tak biasa. Jika bertemu pun, aku tak pernah sanggup menatap langsung matanya. Seringnya, aku menatap diam-diam saat ayah tak sadar kalu sedang aku perhatikan. Aku takut tak kuasa menahan tangis karena terlalu banyak cinta yang ia pancarkan dari matanya, untukku, hanya untukku saja setelah ibu tiada.
           Ayah akan terlihat sangat bahagia saat aku bercerita tentang Langitku padanya. Langit yang sedang bersiap untuk mengajakku tinggal di semestanya suatu hari nanti. Ayah tersenyum bangga, merasa aku akan bersama dengan orang yang tepat, yang mungkin bisa menjagaku lebih baik daripadanya. Tapi aku tahu, ayah menyimpan sedih dalam tawa itu. Sedih karena suatu saat nanti aku akan menetap di semesta bersama Langit, laki-laki yang kucintai setelah ayah. Aku tahu, ayah, mungkin kita tak banyak berkata dalam mengungkapkan cinta. Kita sudah terlalu cinta, hingga lewat tatapan matapun kita bisa saling mengerti makna dan bercerita.
Terpujilah engkau, ayah...engkau akan selalu ada dalam setiap doa..


 *Menjelang pagi saat merindukan hujan di bulan Juni