Copyright © ...Pecinta Kata dan Senja...
Design by Dzignine
Selasa, 25 Mei 2010

hujan.cinta.dan dia


Aku kembali menyusuri jalan tol ini. Kali ini ditemani oleh hujan dengan langitnya yang sangat cantik. Kubuka sedikit kaca mobil, membiarkan anginnya yang damai menyusup masuk. Tak peduli supir yang mulai mengantuk di sebelahku mulai menggelengkan kepalanya seolah aneh melihat aku yang mengeluarkan tanganku lewat jendela lalu menengadahkannya ke langit menyambut hujan.

Aku menyukai hujan. Sangat. Dari kapan yaa?? Entah, aku juga lupa kapan tepatnya. Yang aku ingat, aku suka hujan karena dia, orang yang sangat aku sayangi, begitu menyukai hujan. Rasanya hujan menjadi begitu romantis. (haha*)

Ia sering bercerita tentang hujan. Betapa hujan membuatnya merasa damai. Awalnya aku biasa saja menanggapi. Aku bahkan sering mengeluh jika hujan datang. Ribut dengan jalanan becek, sepatu kotor, baju basah, mengganggu aktivitas, dan segala macam akibat hujan yang bisa merusak penampilan. Belum lagi suatu ketika aku pernah dibuat menangis oleh hujan. Terjebak hujan deras dengan sandal yang putus, baju yang mulai kuyup, ketinggalan primajasa terakhir pulang ke jakarta dari Leuwi Panjang. Saat itu rasanya ingin berteriak dan marah pada hujan. Aku lantas berkeluh kesah padanya sambil menangis di dalam bis lain menuju Jakarta dalam keadaan kedinginan karena baju kebasahan. Ia dengan wibawanya, sabarnya, dan perhatiannya menenangkan aku, membuat tangis kembali menjadi tawa. Dan di luar, hujan masih turun dengan derasnya. Namun saat itu, sudah tidak lagi ada air mata.

Aku menjadi begitu terobsesi pada hujan. Aku begitu cinta dengan angin yang datang sebelum hujan. Aku begitu tergila dengan wanginya saat membasahi tanah atau jalanan beraspal. Dan sekarang, aku bisa merasakan damai mendengarkan senandung hujan saat mengenai atap rumah.
Meski hujan kali ini punya wangi yang berbeda karena terkontaminasi dengan asap knalpot dan truk yang melintas, hujan tetaplah hujan. Aku akan tetap menyukai hujan, karena hujan pernah membuatnya tetap tinggal. Lalu dengan setianya kami memandangi hujan sambil menggenggam tangan dan bersama melukis mimpi-mimpi.




0 komentar:

Posting Komentar