Copyright © ...Pecinta Kata dan Senja...
Design by Dzignine
Senin, 24 Mei 2010

Sebenarnya Cinta...

--> -->Hufh, hingar-bingar kota Jakarta mengingatkan aku pada suatu kenangan manis dalam sebuah kedamaian. Membuat aku merindukan sejuknya udara di Gunung Semeru. sungguh aku rindu masa-masa itu..
.....


-->
Aku terkesima menatap indahnya pemandangan alam yang menakjubkan. Rasa lelah pendakian rasanya terbalas sudah ketika tiba di puncak Gunung Semeru. Aku tersenyum menatap Langit, sosok yang berdiri di sampingku. Raut wajahnya nampak terlihat tenang seolah sedang mensyukuri betapa kuasanya Sang Pencipta. Pandanganku beralih memperhatikan teman-teman sependakian yang asyik berpose ria mengabadikan keberhasilan mereka menaklukkan Gunung Semeru.
“Makasih yah udah ngajak aku ke sini.” ujarku pada Langit.
“Indah kan? Pasti nanti kamu bakal sering-sering ke sini.” aku hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman,
“Aku pengen ngeliat kamu datang ke tempat ini lagi sendiri, tanpa aku.” Tak lama Lagit berujar seraya memecah keheninga di antara kami berdua.
“Kamu ada-ada aja. Mana berani aku sendiri? Kamu kan tahu aku tuh manja banget. Siapa sih yang tahan sama manjanya aku? Cuma kamu yang bisa ngerti itu.”
“Justru itu, aku pengen kamu nggak tergantung sama orang lain.”
“Mulai lagi deh ceramahnya. Udah deh, mendingan sekarang kita foto-foto aja sama mereka.” aku menarik tangan Langit untuk bergabung bersama teman-teman yang lain hingga Pharell, ketua pecinta alam Armapala, memutuskan untuk segera turun gunung sebelum kabut datang mengganggu perjalanan kami.
.....
-->
Aku menggenggam erat tali yang diikatkan di tas Lila yang berjalan tepat di depanku. Hujan turun tiba-tiba dan kami tidak memperkirakannya akan sederas ini. Berteduhpun tak ada tempat yang bisa melindungi kami dari derasnya hujan. Kami akan tetap basah kuyup. Membuat tenda rasanya tak mungkin dengan kondisi medan yang terjal. Kami memutuskan untuk tetap melanjutkan turun gunung. Aku optimis kalau kami semua akan baik-baik saja. Pharell bilang, mereka sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Aku yang memang baru pertama kali mendaki gunung akhirnya ditempatkan di tengah, terpisah dari Langit yang berjalan di belakang untuk mengawasi kami yang berjalan lebih dahulu.
Ketika hujan mulai mereda dengan rintik-rintik yang kadang masih menerpa wajah, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak. Pandangan mataku berkeliling mengamati sosok teman-temanku yang terlihat kelelahan. Aku tersentak menyadari ada sesuatu yang janggal di sini.
“Langit sama Tristan kemana?? Mereka nggak ada!!!” bukannya panik seperti aku, tetapi Pharel, Lila, Sinta, dan Keinant hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Kalian semua pada kenapa sih? Kok tenang-tenang aja gitu sih! Kalau terjadi sesuatu sama mereka berdua gimana?”
“Sya, Langit itu mau bikin surprise buat kamu. Dia mau ngelamar kamu kalau kita sudah berhasil turun gunung. Yah..walaupun sekarang belum bisa dibilang kita belum sampai, mungkin dia berubah pikiran untuk ngelamar kamu di gunung biar lebih romantis.” Sinta menjelaskan panjang lebar.
“Candaan tingkat tinggi!” aku seolah tak percaya.
“Serius! Tadinya kita nggak mau ngasih tahu. Tapi liat tuh tampang kamu, bikin kami nggak tega.” Keinant menimpali.
“Lantas, kemana Keinant?” tanyaku masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh mereka.
“Mungkin saja dia sedang membantu Langit mempersiapkan semuanya. Melamar seorang pujaan hati kan bukan perkara gampang, Sya” aku tersenyum simpul mendengar jawaban Pharel yang memang baru menikah sebulan yang lalu.
“Maaf yah, Sya. Jadi nggak surprise lagi deh acara lamar-melamar romantisnya. Tapi yaaa hitung-hitung persiapan buat mental jugalah biar nanti kamu nggak kaget bakal jawab apa.” Lila mengusap punggung tanganku seolah tahu kalau jantungku sedang berdegup kencang dan otot wajahku menegang. Benarkah Langit akan melamarku di sini? Hari ini? Di tempat yang indah ini? Sebersit rasa gembira dan haru menyusup ke dalam relung-relung kalbuku. Ketika ia memintaku untuk menjadi pendamping hidupnya nanti, tanpa ragu, aku pasti akan langsung menjawab “iya”.
Setengah jam menanti akhirnya dari kejauhan nampak Tristan berjalan sendirian. Aku mengernyitkan kedua alisku dengan degup jantung yang semakin tak menentu. Seandainya saja aku tadi tidak panik, pastilah mereka tidak akan memberitahukan perihal Langit akan melamarku, mungkin aku tidak akan segugup ini sekarang. Tapi...ah, sama saja. Aku pasti panik mencari-cari keberadaan Langit.
“Langit mana?” tanyaku sedikit cemas saat melihat ada yang berbeda dari raut wajah Tristan.
“Sya, sorry, gw nggak bisa....gw...”
“Nggak bisa apa??” tanyaku tenang, seolah bisa menebak kalau Tristan sedang bersandiwara. Pasti Langit akan muncul tiba-tiba saat aku terlihat putus asa mengira sesuatu terjadi padanya.
“Udahlah, Tan..nggak usah akting. Pake sok sedih segala. Ngumpet di mana si Langit? Jangan lama-lama dong, nanti keburu kabut turun lagi.” ujar Pharel.
“Tapi...Langit....Langit....” Tristan terkulai lemah dengan ekspresi yang ingin menangis. Namun aku justru tertawa.
“Maksud kamu apa sih, Tan? Kamu lagi sekongkol kan sama Langit mau bikin kejutan buat aku? Maaf ia, Tan..aku udah tahu hehehehe” aku tersenyum yang diikuti tawa dari anggota Armapala lainnya.
“Ini bukan soal Langit yang mau ngelamar lo, Sya! Tapi Langit terperosok k alam jurang!! Gw udah berusaha nolong, tapi...tapi dia memilih untuk melepaska tangannya dari genggaman gue. Dia...dia...jatuh ke dalam jurang!!!” Tangis Tristan pecah. Kami semua termangu seketika. Terlebih lagi aku. Lila yang berdiri di dekatku segera menopang bahuku saat aku mulai limbung. Ini pasti mimpi. Mimpi buruk karena sebelum tidur tadi aku lupa berdo’a.
.....

-->
Aku membuka kedua mataku. Untunglah, ternyata dugaanku benar. Itu semua cuma mimpi. Aku tersenyum menatap sekeliling kamarku yang nyaman. Kuraih sebuah pigura yang terletak di meja sebelah tempat tidurku. Ada foto Langit dan aku yang sedang tersenyum di sana. Betapa bahagianya menyadari kalau mimpi buruk itu memang cuma sekedar mimpi.
“Keisya??? Kamu sudah sadar?” Lila masuk ke dalam kamarku diikuti dengan anggota Armapala yang lain. Aku terhenyak penuh dengan kebigungan.
“Maaf ya, Sya.” Aku hanya terdiam. Menanti kalimat apa lagi yang akan segera terlontar dari mereka.
“Kami terpaksa menguburkan Langit di Gunung Semeru tanpa kehadiran kamu.”
Menguburkan Langit di Gunung Semeru?? Apa maksudnya ini? Kulihat Tristan menundukkan kepalanya dengan wajah penuh dengan penyesalan. Jadi ini semua bukan mimpi?? Tubuhku terasa lemas lagi tak kuasa menerima kenyataan yang terjadi.
“Kenapa kalian semua tega mengebumikan Langit tanpa ada aku?? Aku belum melihat jenazahnya!! Siapa tahu saja itu bukan jenazah Langit!! Kalian semua tega!!” aku histeris.
“Sya, kita nggak mungkin nunggu kamu siuman dari pingsan kamu untuk mengebumikan Langit. Kamu tuh udah pingsan empat hari tahu nggak!! Liat aja di luar kamar kamu ada suster yang siap sedia kalau terjadi apa-apa sama kamu. Kita semua malah sempet mikir kamu mungkin bakalan nyusul Langit karena kamu nggak kunjung siuman. Terus kamu tega membiarkan Langit terlantar nggak segera dikebumikan hanya karena kamu? Santi mencoba memberi pengertian padaku.
“Tapi aku belum ngeliat dia untuk terakhir kalinya....” aku pun tak dapat membendung air mataku lagi. Lila dengan serta merta memelukku erat.
“Tim SAR yang membantu mengevakuasi Langit menemukan ini dalam genggamannya.” Pharell menyerahkan sebuah cincin berwarna putih padaku. Cincin yang ia yakini sebagai cincin untuk melamarku. Aku mengambilnya lalu memasangkannya di jari manis kananku.
.....

-->
Dan sekarang aku kembali mendaki Gunung Semeru seorang diri. Kata Pharell, sewaktu ia dan Langit mendaki Gunung Semeru pertama kalinya, Langit berpesan padanya jika ia menutup usia, ia ingin dikebumikan di tempat ini sebagai dedikasi terakhirnya sebagai seorang pecinta alam sejati. Aku tahu kalau Langit sangat menyukai Gunung Semeru. Karena alasan itu pulalah ia mengajakku untuk menemaninya mendaki Gunung Semeru waktu itu. Ternyata, Gunung Semeru memang sangat indah. Keindahannya membuat aku selalu tertarik untuk kembali setiap tahunnya. Karena di tempat indah inilah terdapat tempat peristirahatan terakhir orang yang sangat aku cinta.
“Aku kembali Langit. Kamu ingat nggak, sekarang tepat anniversary kita yang kesepuluh. Nggak terasa yah udah sepuluh tahun berlalu. Empat tahun yang sangat berat tanpa kamu ada lagi di sisi aku. Tapi aku akan selalu setia sama kamu...” kuusap debu di nisan yang tertera nama Langit di sana.
.....

-->
“Eh, lo semua pada tahu nggak tentang mitos di gunung ini?”
“Emangnya ada mitos apaan? Serem yah?”
“Katanya kalau ngedaki gunung ini bawa pasangan, nanti hubungannya bakal langgeng.”
“Emang gimana ceritanya sampe ada mitos kayak gitu?”
“Kakak gw bilang, dulu ada sepasang kekasih yang mendaki gunung ini. Nah cowoknya itu mau ngelamar ceweknya kalau mereka berhasil turun gunung dengan selamat. Tapi ternyata cowoknya jatuh ke dalam jurang waktu hujan lebat turun pas mereka lagi turun gunung.”
“Terus cowoknya meninggal?” si pencerita kisah itu mengangguk.
“Gimana mau langgeng kalo tokoh utamanya aja mati.”
“Nah, katanya si cewek itu sampe sekarang nggak nikah-nikah. Umurnya samalah kayak abang gw. Lo bayangin dong, abang gw aja sekarang udah punya anak dua.”
“Yeee..itu mah emang abang luw nya aja kali yang pengen punya anak banyak mumpung masih muda.”
“Tapi tragis juga yah ceritanya. Kasihan ceweknya.”
“Dan kalo nggak salah, kata abang gw juga, kuburan cowoknya nggak jauh dari sini. Setiap pendaki yang mau naik ke puncak pasti ngelewatin kuburan itu. Kuburan itu satunya-satunya kuburan di gunung ini.”
“Nah itu dia kuburannya!” ujar si pencerita setelah beberapa saat mendaki.
“Loh, kayaknya ada orang di sana. Samperin yuk! Siapa tahu aja itu ceweknya, jadi kita kan bisa nanya langsung kejadian yang sebenernya. Siapa tahu aja abangnya Nino nambah-nambahin ceritanya.” tanpa perlu aba-aba lagi, mereka bergegas menghampiri sosok yang nampak tertidur pulas di samping makam.
“Ya ampun, ini Keisya! Gw pernah ngeliat fotonya di album Armapala punya Kak Pharell. Dia temennya Kak Pharell, cewek yang tadi gw ceritain!”
“Oh my GOD!! Kita terlambat!! Denyut nadinya udah nggak ada. Gw rasa dia mati kedinginan di sini. ”
“Coba liat apa yang dia pegang??” salah seorang dari pendaki itu memperlihatkan kepada teman-temannya sebuah foto sepasang kekasih yang sedang bergandengan tangan di puncak gunung dan sebuah kartu ucapan yang tertulis “ Happy Anniversary yang kesepuluh”, 27 Agustus 2007, tepat tiga hari yang lalu.
Dan makam di Gunung Semeru itu, kini tak lagi sendiri.......

......

-->
Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka saat kita tertawa
Peterpan - Semua Tentang Kita




*tulisan jaman SMA yang masih terselamatkan haha*









0 komentar:

Posting Komentar