Copyright © ...Pecinta Kata dan Senja...
Design by Dzignine
Jumat, 16 Juli 2010

aku di bulan Juli


"Juli itu katanya waktu buat perbekalan buat musim hujan..."

Juli kali ini penuh dengan berbagai macam kisah. Dan aku berada di tempat yang berbeda, jauh dari Jakarta, terdampar di sebuah desa bernama Wangunjaya. Enam belas hari berada di sini, aku begitu merindukan banyak hal selain segala kesenangan yang biasanya mudah untuk kudapatkan.
           Ya, aku begitu merindukan wangi hujan di Jakarta. Merindukan betapa wanginya tetesan hujan saat membasahi tanah dan jalanan beraspal dari teras rumah. Merindukan saat-saat berdiri di teras rumah bertemankan mendung menunggui hujan turun, lantas dengan khidmat menghirup udara bersama angin yang akan mengantarkan hujan. Dan saat hujan akhirnya turun, aku akan tersenyum dan terpejam secara bersamaan untuk merasakan wanginya yang menenangkan dan nyanyiannya yang mendamaikan.

*semoga hari cepat berlalu Tuhan..dan aku akan segera bertolak ke Jakarta, menunggui hujan seperti biasanya...
 
Minggu, 13 Juni 2010

Lelaki yang Menyukai Hujan...

-->
Menjelang tengah malam. Handphoneku berdering suarakan alunan lagu Lucky si Jason Mraz. Aku bisa menebak siapa yang menelponku. Ya, ringtone lagu itu memang aku khususkan untuknya, si lelaki yang menyukai hujan...
Suaranya terdengar masih sengau karena flu sejak beberapa hari yang lalu. Percakapan kami pun dimulai dengan membahas ujian semester yang akan aku hadapi Senin besok.
“Jangan belajar sampe pagi...” ujarnya yang selalu saja bawel kalau aku sering tidur pagi.
“Waah gag janji yaaaah...justru kalo sepi tuh enak buat blajar tauu..” aku berkilah seperti biasanya.
“Besok pagi aku pulang ke rumah.”
Hmm..entah mengapa aku sering iri jika ia menyebutkan kata “rumah”. Rumahnya terdengar begitu nyaman karena selalu ada kehangatan yang menyambutnya ketika ia pulang. Aku iri karena tidak pernah merasakan hal itu lagi sejak mama pergi.
“Nanti aku bangunin kamu pagi-pagi. Makanya tidurnya jangan pagi-pagi. ” aku hanya cengengesan mendengar ucapannya.

Hening sejenak. Pikiranku masih menerawang teringat mama. Tapi aku enggan untuk membahasnya. Lantas aku mengajaknya membicarakan kembali film Robinhood yang kami tonton beberapa hari yang lalu. Membahas scene di mana Marion, istri Robin Longstride meminta Longstride untuk berbagi kamar lantas dijawab oleh Longstride supaya Marion meminta dengan baik-baik.
“Kalau aku minta sesuatu sama kamu dengan baik-baik, kamu bakalan ngabulin gag??” tanyaku tiba-tiba.
“Hmmm..” ia berusaha berpikir.
“Bukan minta kamu berhenti ngerokok kok..” entah kenapa aku seolah tau apa yang ada dipikirannya.
“Terus minta apa dong?”
“Nyanyiin lagu romantis buat aku...” dia tersenyum.
“Kan sekarang lagi bindeng suaranya..aku lagi flu..”
“Aaaah kamu mah selalu saja beralasan kalo diminta nyanyi..knapa sih?? Katanya dulu vokalis band...hahaha jangan-jangan suara kamu pernah bikin pingsan murid satu sekolahan yaa??” ledekku seperti biasanya jika ia menolak saat diminta untuk bernanyi.
“Nanti aku nanyi deh...kalo kita ketemu lagi setelah kamu pulang KKN dari Ciamis..” aku bersorak dalam hati. Akhirnya si lelaki hujan yang rasanya mahal banget suaranya kalo buat nyanyi ini mau nyanyi hahaha*
“Semoga takdir tersenyum pada kita..jadi kita masih bisa ketemu..” lanjutnya.
“Kalooo...abis aku ujian kita ketemu lagi gimana??” aku sedikit ragu sebenarnya menanyakan hal ini, mengingat selama ini betapa sibuknya jadwal ia bekerja dan padatnya aku dengan tugas-tugas kuliah. Sehingga untuk sering bertemu menjadi hal yang langka rasanya.
“Jalan-jalan yuuk..ke seaworld..” ujarnya tiba-tiba. aku terdiam sejenak mendengar ajakannya, teringat dengan keinginanku kemarin.
“Hey, kamu bisa baca pikiran aku ya???” tanyaku setengah curiga.
“Hah?? Memangnya kenapa??” nampaknya ia sama herannya dengan aku.
“Kemarin aku kepikiran lagi pengen banget ke sana. Tapi belum sempet ngomong ke siapa-siapa dan nggak tahu juga mau ngajak siapa. Rasanya gag mungkin aja ngajak kamu yang super sibuk buat pergi. Jadi yaudah, aku pendem aja. Trus tiba-tiba aja kamu ngajak ke sana. Takdirkah??” kami berdua lantas tertawa bersama.
            Dan aku tahu. Hal ini bukan yang pertama terjadi. Ia seolah selalu tahu apa yang aku rasa meski aku belum bercerita. Ia seolah mengerti apa yang aku alami meski aku belum berkata. Ya, ia memang selalu tahu isyarat mata, gerak bibir, emosi yang tertahan, semangat yang redup, kata yang diubah, perbuatan yang disembunyikan, dan dusta yang dibenar-benarkan. Dia bukan Tuhan..dia hanyalah lelaki yang menyukai hujan..
“Berasa gag??” tanyanya..
“Berasa apa?? Apa sih?? Nanyanya gag jelas...”
“Aku lagi meluk kamu...” aku diam, tak menjawab. Tersipu.
“Jeleeek...” aku mulai merengek manja.
“Apaaaa...”
“Kenapa sih gag pernah mau difoto berdua??” tanyaku penasaran. Ya, aneh mungkin kedengarannya. Tapi selama hampir 9 tahun aku dan dia bersama..tak pernah ada satu foto pun yang mengabadikan gambar kami berdua.
“Aku nggak mau dikenang..” jawabnya.
“Gag mau dikenang apa nggak mau dikenal orang??” ledekku. Mengingat selama ini ia terkadang enggan berhubungan dengan orang yang tidak ia kenal dekat.
“Gag mau dikenang...” ujarnya menegaskan.
“Gag ngerti aaah...kamu kan tahu aku suka oneng..jelasin jangan pake analogi tingkat tinggi yaaa...” ia tertawa kecil mendengar protesku.
“Ibaratnya gini..kalo kamu tiap hari tinggal di rumah yang sama. Kamu udah hapal banget tiap sudutnya. Sampe kalo kamu pergi pun kamu bakalan selalu inget sama tiap sudut rumah kamu. Lantas buat apa lagi kamu foto dan simpen gambarnya??” aku terdiam berusaha mencerna. Dan saat aku tahu maksudnya..entah mengapa aku merasa lega. Ada rasa bahagia yang damai rasanya mengalir bersama aliran darah.
“Kamu ngerti gag maksud aku??? Jangan-jangan ngartiinnya malah beda lagi..” tanyanya meledek.
“Iyaaaa aku ngerti..aku kan udah gag oneng-oneng banget sekarang”
“Aku udah hapal banget kamu kayak gimana..tabiat kamu..manjanya kamu..egoisnya kamu..sabarnya kamu..semuanya...semuanya udah terekam jelas banget di otak aku. Jadi aku gag perlu foto yang sifatnya semu.” aku terdiam. Si lelaki yang menyukai hujan ini memang selalu saja punya kalimat-kalimat ampuh yang menenangkan. Meski kadang cueknya suka gag ketulungan dan seringkali membuat aku jadi uring-uringan. Aku tahu, pada dasarnya ia selalu berusaha memberikan yang terbaik. Ia yang selalu siap memberikan bahunya untuk aku bersandar saat lelah dan memberikan genggaman tangan yang erat saat aku mulai lemah. Ia yang dengan sabar dan dewasanya mengajakku bangkit saat aku pernah merasa merasa semua orang memojokkan dan menyalahkanku karena suatu hal. Dia bukan Tuhan...dia hanya lelaki yang menyukai hujan..



             




Jumat, 11 Juni 2010

Hujan di Bulan Juni

-->
Ternyata masih ada hujan di bulan Juni. Setidaknya Tuhan membiarkan itu terjadi saat kami bertemu lagi. Ya, memang aku yang meminta sebenarnya. Aku yang semula pesimis tak akan ada hujan karena begitu teriknya mentari siang itu, lantas berdoa dalam hati “Tuhan, semoga hari ini turun hujan hingga malam menjelang”
          Dan entah mengapa saat ia tiba, terik matahari mulai meredup perlahan. Makin sore, mkain mendung berawan di langit sana. Dan akhirnya hujan pun turun. Sungguh aku berterimakasih pada Tuhan..
          “hujan di bulan juni..” ujarku. ia tersenyum. Lantas seperti biasa, kami memandangi hujan dari balik jendela sambil saling berpegangan tangan erat.

          Hari itu..untuk kedua kalinya..ia tetap tinggal karena hujan. Dan untuk kesekian kalinya aku berterima kasih pada hujan.
Kamis, 03 Juni 2010

Welcome to June..

Juni...
Identik dengan pergantian musim yang mulai cerah
bunga-bunga mulai kembali mekar berwarna-warni
dan akasia mulai tumbuh lagi

Tapi aku benci Juni...
saat Juni datang, berarti ia akan menyingkirkan eksistensi hujan
Hujan tak akan lagi datang mengunjungi aku setiap hari
dan aku akan akan semakin kesulitan bertemu pelangi
hujan dan pelangi..akan perlahan sembunyi
tak lagi kaburkan jejakku yang berlari
Jumat, 28 Mei 2010

...Kembali Pulang...



      Headshet di telinga memperdengarkan dendangan lagu dari playlist yang kuputar. Dingin AC di dalam bis menemaniku menuju Jakarta. Dan tanpa sengaja wajahku terkena terik mentari yang tertembus kaca jendela yang tak tertutup tirai. Entah mengapa, aku merasa begitu nyaman menikmati hangatnya ditemani dengan pemandangan pepohonan hijau yang mulai berbunga seiring pergantian musim.
      Namun langit nampaknya cepat sekali berubah arah. Terik yang menghangatkan itu terasa hanya sepersekian detik. Langit kembali mendung. Murung seolah berkabung. Seperti lamunanku yang tak tentu ujung.
      Aku masih setia di dalam bus ini, menuju Jakarta, dengan seseorang yang sepertinya aku kenal duduk di sebelahku tapi enggan untuk kusapa lebih dahulu. Dan dia pun terlihat acuh, acuh dengan aku yang sedari tadi berbatuk karena gatal tenggorokan ini menyiksaku sehingga membuat bis jadi gaduh.
     Aku kembali ke Jakarta. Kembali ke tempat yang aku sebut sebagai “rumah”. Ke tempat yang sangat nyaman di mana biasanya dapat kutemukan pelukan hangat mama dan ucapan bijak papa. Tempat yang saat aku tiba, selalu disambut dengan tatapan rindu mama yang penuh cinta dan tawa khasnya yang tak pernah bisa aku lupa. Dan saat berada di sana, merupakan saat ternyaman yang tak pernah bisa digantikan oleh apapun dan oleh siapapun.
     Dulu, kalimat “kembali pulang ke rumah” menjadi kalimat sakral yang selalu aku nantikan untuk dilakukan. Karena di rumah aku bisa bebas berkeluh kesah dengan mama yang tak pernah bosan mendengarkan. Jika aku mulai menangis, ia akan dengan setianya menemani dengan pelukan hangat penuh keibuan, senyum yang menenangkan, dan petuah yang seolah bagaikan oase menyegarkan di tengah padang gurun terpanas di dunia.
    Namun, “rumah” yang sekarang, bagiku hanya sebuah objek belaka. Sebuah bangunan kokoh berwarna oranye yang di terasnya terdapat banyak bunga angrek kesukaan papa. Kalimat “kembali pulang ke rumah”, kini seperti tak punya roh lagi. Saat aku pulang, yang ada hanya sunyi, hampa tak bertepi. Rumah seolah tak punya lagi energi semenjak mama pergi. Aku pun susah payah berusaha menghidupkan kembali energi itu..agar oranye di rumah ini sungguh memancarkan keceriaan. Namun sekeras apapun ku mencoba, tetap saja berbeda. Yang ada justru tangis yang tertahan, tawa yang dipaksakan, dan jerit yang tak mampu diteriakkan.
     Bila saat itu terjadi,aku hanya mampu menertawakan diri sendiri. Sungguh bangga aku pada mama. Bahkan rumah pun merindukannya yang selama hampir 36 tahun ini selalu mendiami dengan tangannya yang tak perah mengeluh letih. Dan mama selalu punya hati untuk memberikan kehidupan dan energi di rumah kami.
    Aku mengaku kalah, Ma. Aku tidak bisa bersahabat dengan rumah. Ia tidak mau menghidupkan kembali kedamaian dan ketenangannya melalui aku. Ia hanya mau memberikan itu untukmu. Maka saat kau pergi, terasa sekali rumah ini begitu sepi.
Kembali pulang ke rumah..
       Masihkah kalimat itu sakral untukku?? Aku ragu...
     Aku memang senantiasa kembali ke sini, dan akan selalu kembali meski tidak ada lagi hadir mama yang menghidupkannya. Demi papa, yang mengaku selalu tak pernah bisa lupa bayang mama yang selalu ada di setiap sudut rumah. Aku tidak heran mendengarnya. Ya, karena memang mama-lah yang memberi energi kehidupan di rumah oranye kami.
Lantas..kemanakah aku harus pulang???
Kemana rumah yang harus kutuju sekarang??
Hati yang bertanya, namun hati pula yang tak sanggup menjawabnya.