Aku mengepak baju-bajuku. Memasukkan sekenanya ke dalam tas ransel yang aku punya. Kulihat ayah nampak memerhatikan dari jauh. Namun ia tidak berkata apa-apa. Ia seolah tahu tak akan ada hal yang bisa menghentikanku untuk pergi. Dan memang benar, aku memilih untuk pergi tanpa berkata apa-apa lagi dan berusaha untuk tidak menatap mata Ayah, terlebih lagi ada perempuan yang baru diperistri ayah 3 bulan lalu. Yeaaaks..melihatnya saja aku malas. Rasanya ingin kujambak-jambak rambutnya.
Aku masih sangat ingat pertengkaran aku dengan ayah yang menjadi semakin sering frekuensinya sejak awal September ini. Dan pertengkaran itu memuncak pagi tadi. Ayah selalu bersikukuh dengan pandangannya sendiri terhadap suatu hal. Dan itu menurun padaku. Maka kami bertahan dengan ego kami masing-masing untuk meributkan hal yang mugkin kedengarannya sepele. Aku dan ayah menjadi tidak solid lagi sejak kehadiran perempuan yang katanya hanya sebagai pendamping ayah sepeninggal ibu yang tiada karena penyakit kanker rahimnya. Dari awal aku memang tidak setuju dengan pernikahan itu. Namun mengingat aku juga tidak bisa terus-terusan mendampingi dan mengurusi ayah karena aku punya kehidupan sendiri yang harus kukejar di luar kota, maka terpaksa kuizinkan. Ternyata itu justru mejadi bumerang. Mungkin karena aku tak suka padanya, maka apapun yang dilakukan perempuan itu selalu saja terlihat salah di mataku (tapi menurutku memang ia salah). Dan ayah selalu saja membela. Jadilah aku makin benci padanya.
Setiap kali aku bertengkar dengan ayah, aku merasa sangat rapuh dan aku akan kembali teringat pada ibu. Dengan bodohnya aku akan menyesali kenapa ibu pergi secepat ini. Dan orang-orang akan mulai kembali mengingatkan aku untuk beristigfar dan mengikhlaskan kepergian ibu. Ibuku orang yang teramat sangat baik. Bukan cuma aku, teman-temannya pun mungkin masih sering menangis hingga saat ini jika mengingat kebaikannya. Ya, dia seperti malaikat yang dikirim Tuhan ke dunia. Mungkin karena terlalu baik, Tuhan takut dia terpengaruh kehidupan fana dunia, maka Tuhan cepat mengambilnya kembali.
Jika sudah seperti ini, aku merasa sendiri dan sangat kesepian. Aku tahu aku punya Tuhan. Dia akan sangat bijaksana untuk mendengarkan semua cerita dan doa-doaku. Namun tetap saja hatiku terasa kosong. Aku butuh Langit, tempatku untuk kembali pulang. Cuma dia yang mengerti aku. Cuma dia yang sanggup menguatkan aku dan dengan sabarnya medengarkan semua ceritaku. Cuma dia.
“Langit, aku kabur dari rumah...” kukirimkan pesan itu ke nomornya. Lama tak ada balasan. Ah, mungkin ia sedang sibuk bekerja seperti biasanya.
“Tapi kamu ga perlu cemas. Aku baik-baik saja di Bandung.” Kukirimkan lagi pesan itu padanya. Sungguh aku tidak ingin menambah beban pikirannya yang aku tahu sedang banyak hal yang ia pusingkan.
Aku membuka pintu rumah dan terdiam lama berdiri menatap isi rumah mungilku ini. Rasanya aku rindu sekali berada di sini, padahal baru seminggu aku pergi. Senyumku mengembang melihat sepasang ikan dalam akuarium yang diberikan Langit untukku. Mereka nampak kelaparan setelah seminggu tidak kuberi makan. Lantas aku pun mulai disibukkan dengan kegiatan membersihkan rumah yang mulai nampak berdebu di beberapa bagian, membuat rumah ini kembali menjadi rumah yang sangat “nyaman” untuk kutempati.
Malam menjelang. Sudah hampir pukul 10 malam dan aku tetap membiarkan perutku belum terisi makanan apapun sejak siang. Aku bahkan tak peduli jika sakit maag ku kambuh lagi. Aku teramat sangat malas untuk makan. Rasanya tak bernafsu. Aku hanya ingin diam dan bermalas-malasan memandangi layar televisi yang sedari tadi kuganti-ganti terus salurannya. Tidak jelas juga ingin menonton apa.
Tok..tok..tok
“Haduh, siapa juga yang datang menjelang malam begini.” Gerutuku dalam hati, malas membuka pintu. Tadinya kubiarkan saja ketukan di pintu itu. Namun ketukan itu berulang berkali-kali. Dan aku tertegun saat aku tahu siapa yang berdiri di depanku saat pintu rumah kubuka.
“Selamat malam, Mentari. Mari kita bertukar cerita.” aku seketika merasa tenang melihat senyumannya.
“Langit....” ujarku pelan. Aku masih terheran mendapati Langit di hadapanku lengkap dengan sekotak pizza berukuran besar di tangannya.
“Aku tahu kamu pasti belum makan sejak tadi. Maaf sudah agak dingin pizzanya, aku bawa dari Jakarta.” aku terdiam sesaat. Tak bisa berkata lagi melihatnya. Hanya ingin memeluk dan berterima kasih pada Tuhan karena aku punya Langit. Langit yang tak pernah pergi saat hampir semua orang menyudutkan dan menyalahkan aku. Langit yang selalu menjadi tempatku untuk pulang, kembali ke pelukan.
Menghangatkan pizza yang Langit bawa dengan microwave tak butuh waktu lama. Langit tak banyak bertanya. Ia membiarkan aku makan dengan lahap sambil mengelus kepalaku sesekali. Dan aku akan merasa sangat tenang. Merasa kembali kuat saat ia menggenggam erat tanganku meski tak ada kata yang terucap. Merasa kembali nyaman saat membiarkan aku menyandar di bahunya hingga tertidur pulas. Tapi kali ini aku tidak mau tertidur. Aku ingin puas memandangi matanya. Mata yang cukup letih karena terlalu banyak hal yang ia pikirkan sendiri tanpa mau dibagi.
Lewat tengah malam. Kami masih terduduk di ruang tamu dengan jemari yang saling menggenggam. Mematikan televisi. Mematikan lampu. Hening. Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Aku tak mau mengganggu apa yang ia pikirkan. Tak mau juga bertanya meski banyak hal yang coba aku terka. Aku terdiam menunggunya bercerita. Bertukar cerita lebih tepatnya, seperti yang tadi ia katakan saat ia datang.
“Mentari..kamu sudah mengantuk?” tanyanya tiba-tiba yang kujawab dengan sebuah gelengan di kepala.
“Mau mendengarkan sebuah cerita?” aku mengangguk. Kembali hening sepersekian menit sampai akhirnya ia memulai ceritanya.
Banyak hal yang ia ceritakan. Mungkin selama sepuluh tahun aku mengenalnya, malam ini adalah malam paling banyak aku mendengarnya bercerita. Ternyata apa yang ia pikirkan jauh lebih memusingkan dari masalah yang kualami. Pantas mata itu terlihat begitu letih. Aku bahkan ingin menangis mendengarnya bercerita. Bukan karena cerita yang diutarakan Langit sangat sedih. Bukan. Aku ingin menangis karena aku bangga pada Langit. Sangat bangga. Langit begitu tegar, bijaksana, dan sangat dewasa. Tapi aku tak mau Langit salah mengartikan air mataku. Maka kusimpan tangis penuh rasa banggaku itu. Aku tersenyum dan menciumi pipinya sesering mungkin. Berharap dia tahu kalau dia tidak sendiri, dia punya aku untuk melewati semua hal memusingkan yang menari-nari di pikirannya itu.
Mendengar ceritanya, aku jadi tak peduli lagi dengan apa yang sedang kualami. Bahkan aku seolah lupa. Aku hanya ingin menggenggam jemari Langit sambil mendengarnya terus bercerita. Dan kami pun bercerita sampai pagi. Sampai hilang semua gundah. Sampai aku tertidur pulas di pelukannya.
Aku terbangun lebih dulu dan dengan puasnya memandangi Langit yang masih tertidur pulas terduduk di kursi tamu. Aku larut dalam pikiranku sendiri. Tuhan seolah ingin mengingatkan aku pada masalahku melalui cerita Langit. Bahwa tidak seharusnya aku pergi dari rumah membawa semua keegoisan yang aku punya. Bahwa keluarga itu penting meski seperti apapun keadaan dan keberadaannya. Lantas kunyalakan hp yang sejak kemarin malam sengaja kumatikan supaya aku tidak bisa dihubungi oleh siapapun termasuk ayah. Saat hp ku kembali aktif, 13 sms mengantri untuk kubaca. Tiga sms dari Langit, dan sisanya dari ayah yang mengkhawatirkan keberadaanku meski usiaku sudah tidak lagi remaja. Aku jadi merasa begitu rindu dengan ayah. Namun aku tetap tak mau pulang karena tak ingin bertemu dengan perempuan pendamping ayah yang selalu jadi pemicu pertengkaran kami.
“Aku baik-baik saja. Hanya ingin sendiri beberapa saat. Aku di Bandung. Tak usah cemas. Aku sayang ayah.” kukirimkan pesan itu untuk ayah. Tanpa harus menunggu lama, ayah mengirimkan balasannya untukku, mengingatkan aku agar tidak lupa makan. Seketika aku tahu, kalau ayah begitu menyayangiku.
Sungguh aku berterimakasih pada Tuhan. Berterimakasih untuk Langit yang Dia kirimkan padaku. Kukecup kening Langit dan Langit pun terbangun. Ia tersenyum. Aku tersenyum.
“Terima kasih, Langit...” bisikku di telinganya.
“Untuk apa?” tanyanya setengah tak mengerti.
“Untuk segalanya...terimakasih telah membuat Septemberku menjadi ceria..dan terima kasih untuk kesabaran yang luar biasa.” Langit tersenyum. Tak menjawab apapun. Ia hanya mengunci bibirku dengan bibirnya.
Pertengahan September ini, rasanya menjadi begitu ringan karena aku tahu, aku punya Tuhan...dan aku punya Langit yang tak akan pernah bosan menjadi tempat Mentari untuk pulang.



0 komentar:
Posting Komentar